KAMANDAKA : Pemilik Ketampanan Abadi

Langit Berawan
Chapter #41

BAB 41: Malam Sebelum Malapetaka Datang

Malam itu, langit di atas Kota Raja Galuh tidak lagi menyisakan kedamaian perbukitan, melainkan tampak berwarna merah pekat seperti genangan darah yang mengental di angkasa. Fenomena alam yang ganjil itu menjelma menjadi pertanda buruk yang teramat sangat mencekam jiwa, memaksa seluruh rakyat jelata dan kawula urban mengunci rapat-rapat pintu rumah panggung mereka dalam ketakutan yang mendalam. Suasana sunyi yang turun menjelang fajar terasa begitu berat, seolah-olah seluruh tanah bumi Pasundan sedang menahan napas, bersiap menyaksikan runtuhnya sebuah kemegahan dinasti Galuh akibat dosa keangkuhan seorang anak manusia.

Kamandaka berdiri tegak lurus seimbang sempurna di atas menara tertinggi Istana Galuh. Ia mengenakan pakaian kebesaran sutra emasnya yang berkilau menawan ditiup pendar api lampion, lengkap dengan mahkota kebesaran Prabu Anom yang baru beberapa hari lalu disematkan di atas dahi halusnya. Angin malam berembus kencang membabi buta, menerbangkan ronce melati di hulu keris pusaka Kyai Naga Liman yang terselip di pinggang tegapnya. Tiupan hawa dingin itu membawa aroma anyir asap pembakaran dan belerang dari kejauhan, mengusir paksa keharuman mistis aroma mawar tubuh bidangnya yang biasanya menolak layu.

Kamandaka menatap ke arah cakrawala barat dengan sepasang mata tajam yang memancarkan pandangan dingin tanpa ada secercah pun rasa ngeri kemanusiaan di dalam lubang dadanya. Ia sangat tahu bahwa malapetaka besar berupa invasi militer dari kerajaan tetangga yang dikabarkan pada bab sebelumnya kini sedang bergerak cepat menjemput takhtanya. Namun, didorong oleh narsismenya yang telah sakit akut dan gila, ia menolak untuk terlihat kerdil.

"Apakah kau mengira serbuan parang dari para bajingan barat itu mampu menggores sel kulitku, Suarsih?" tanya Kamandaka tanpa membalikkan tubuh bidang tujuh belas tahunnya. Suaranya beralun merdu, terdengar teramat tenang membelah deru angin badai menara. "Mereka mengira bisa merubuhkan singgasana emas ini, tanpa pernah tahu bahwa tubuh yang dikunci oleh keabadian gaib buah maja tidak akan pernah bisa disentuh oleh kehancuran seumur hidup takdir bumi."

Suarsih yang berdiri mematung di dekat undakan tangga kayu menara menundukkan wajah layunya sedalam mungkin menatap lantai papan. Kedua tangan wanita paruh baya itu gemetar hebat, memeluk erat tas kain kecil berisi minyak kenanga gaib dan kain sarung tebal peninggalan lereng Sindang Kasih. Sepasang matanya menangis duka, merasakan debaran kaku di ulu hati tuannya kian hari kian selaras dengan denyut kencang jantung buah terkutuk di kamar rahasia bawah tanah.

"Prabu Anom... hamba memohon dengan sangat, turunlah dari menara ini," bisik Suarsih dengan nada suara teramat lembut namun tercekat di tenggorokan menahan duka batin yang mendalam. "Aroma maut yang dibawa angin malam ini bukan lagi isapan jempol belaka. Pengkhianatan massal yang dirancang oleh Patih Bimaraksa pada pertemuan balairung kemarin telah resmi memutus seluruh tali loyalitas para ksatria otot istana."

Kamandaka mengeluarkan sebuah dendaan meremehkan yang teramat sangat dingin menusuk tulang, mengabaikan seluruh ratapan kesetiaan pelayan pribadinya. "Bimaraksa hanyalah seekor tikus kerdil yang badannya berbau tanah kuburan, Suarsih. Biarkan dia menggonggong di barak militer luar, karena fajar ini akulah yang akan menyaksikan tubuhnya membusuk nyata di bawah himpitan pilar batu keraton ini."

Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika ramalan pertapa buta di pinggir telaga air beku waktu lalu akhirnya mulai menemui ujung jembatan takdirnya. Pasukan invasi kerajaan musuh yang kuat dan besar tiba di depan gerbang utama ibu kota Galuh dengan derap langkah kaki kuda yang congkak membelah kesunyian subuh. Tanpa ada perintah dari Kamandaka selaku penguasa tunggal, pintu gerbang besi yang kokoh dan tebal itu mendadak dibuka lebar dari dalam. Pembangkangan massal yang digerakkan oleh Patih Bimaraksa pada bab sebelumnya terbukti nyata; para prajurit pembelot dengan sengaja menurunkan senjata tombak baja mereka, membuka celah jalur masuk bagi musuh bebuyutan kerajaan.

Lihat selengkapnya