KAMANDAKA : Pemilik Ketampanan Abadi

Langit Berawan
Chapter #42

BAB 42: Terjebak di Ambang Kehancuran

"Suarsih! Di mana kotak kayu cendana itu?!"

Suara Kamandaka meninggi, memotong deru angin malam yang membawa lidah-lidah api ke dalam kamar tidur paviliun pribadinya. Napasnya memburu hebat, sementara sepasang matanya yang tajam menatap nanar ke arah tirai yang mulai dijilat kobaran api besar. Kain samping rajutan terbaik keraton yang dikenakannya kini telah compang-camping, berlumur noda hitam jelaga dan percikan cairan merah pekat sisa pembantaian di balairung agung. Namun, di bawah pendar cahaya merah kebakaran yang gila, kulit kuning langsat wajah rupawannya masih tetap utuh kencang tanpa cela, memancarkan daya pikat gaib yang menolak rusak oleh hawa kotor luar.

Suarsih yang merangkak di atas lantai papan yang panas langsung mendongakkan wajah layunya. Kedua tangan kurusnya yang gemetar hebat menunjuk ke arah sudut ruangan, tepat di balik lemari pakaian besar berukir naga emas yang telah miring akibat guncangan dari luar.

"Di bawah dipan tempat tidur Anda, Prabu Anom! Hamba belum sempat memindahkannya ke tempat bernaung yang aman!" jerit Suarsih dengan suara tercekat menahan duka batin yang teramat sangat mendalam. Air mata kegetiran spiritualnya mengalir deras membasahi pipinya yang keriput, meratapi nasib istana Galuh yang malam ini resmi berada di ambang batas pemusnahan total.

Tanpa membuang waktu sekejap pun, Kamandaka berlari dengan gerakan kaki yang lincah anggun, seringkas macan lapar membelah kepulan asap hitam pekat yang kian menyesakkan rongga dada. Dengan sisa kekuatan otot lengannya yang kokoh, ia mendorong paksa badan lemari besar tersebut hingga bergeser menimbulkan bunyi berdecit keras. Jemari tangannya yang putih bersih segera meraba pasak rahasia pada kayu jati, membongkar celah gelap rahim bumi yang menuntun lurus ke dalam terowongan gaib bawah tanah.

Ia melompat masuk, meraba permukaan bulat sebutir buah maja hitam beruratkan darah yang berdenyut kencang di dalam kotak kayu cendana lapis beludru merah pekat. Deg... Deg... Deg... Bunyi detak jantung monster kelaparan itu bergaung liar, mengirimkan hawa dingin pekat yang merembes menyusuri sekujur pembuluh darah dada bidang Kamandaka. Janji iblis dari Telaga Gaib terus menuntut haknya, mengunci kemurnian sel kulit wajahnya agar tetap estetik menolak keriput seumur hidup, tepat di saat kehancuran dunia luar sedang mengintainya.

Namun, keangkuhan Kamandaka yang merasa kekuatan gaib kutukannya akan mampu melindungi takhtanya dari kehancuran fisik mendadak runtuh oleh realitas yang kejam. Tepat ketika ia berhasil melangkah masuk ke dalam mulut terowongan rahasia itu, sebuah hantaman gada raksasa dari luar paviliun meledak dahsyat laksana bumi sedang dibongkar dari porosnya. Patih Bimaraksa bersama sisa ksatria gada besi barat yang memimpin pengkhianatan massal telah berhasil merangsek masuk ke pelataran belakang.

Lihat selengkapnya