Asap hitam pekat setebal jelaga kian menggulung liar di dalam ruang tengah paviliun pribadi yang mulai hancur berantakan dihantam gada besi. Kamandaka berdiri tegap lurus seimbang sempurna di tengah kepungan kobaran api yang menjilat-jilat dinding papan kayu jati sepuh. Ia mencengkeram erat hulu emas keris pusaka Kyai Naga Liman dengan jemari tangan yang bergetar hebat. Mahkota kebesaran Prabu Anom di kepalanya telah miring, dan jubah sutra emas paksi naga liman miliknya kini compang-camping tercabik-cabik. Bau harum mawar alami dari rambut hitam legamnya telah sepenuhnya lumat, berganti dengan hawa anyir asap pembakaran yang menyesakkan rongga dadanya.
Brakkk!
Dinding pembatas bilik tidur utama mendadak jebol berkeping-keping. Belasan prajurit gerakan militer rahasia dari kerajaan tetangga, diiringi oleh sisa ksatria gada besi barat pimpinan Patih Bimaraksa, langsung merangsek maju memotong jalan setapak pelariannya. Dengan mata yang membelalak penuh kegarangan , mereka menghujamkan mata tombak baja dan parang panjang secara membabi buta tepat ke arah tubuh Kamandaka yang polos tanpa zirah besi.
Jleb! Sret!
Mata tombak yang berkilat tajam berhasil menembus otot lengan kokoh dan dada bidang Kamandaka dari arah depan, disusul sabetan parang panjang yang merobek kulit kuning langsat di perutnya. Cairan merah pekat sewarna buah ranum perkebunan kopi Sindang Kasih seketika membanjiri lantai papan jati yang panas. Hantaman senjata tajam itu begitu kuat hingga membuat tubuh Kamandaka terdorong ke belakang, membentur pilar batu yang mulai runtuh. Namun, keajaiban kutukan darah dari sebutir buah maja hitam di kamar rahasia bawah tanah terbukti nyata malam Selasa Kliwon ini.
Kamandaka tidak bisa mati.
Luka-luka robek yang menganga lebar di sekujur tubuh tegap bidangnya secara gaib menolak untuk merenggut nyawa manusianya. Aliran darah kehitamannya mendadak berhenti mengalir secara mistis, dan pori-pori kulitnya yang compang-camping mulai merapat kembali sehalus porselen upeti dalam hitungan detik. Ratusan pasang mata prajurit musuh yang menyaksikan fenomena spiritual tersebut seketika membeku, menjatuhkan kapak pemotong kayu mereka ke atas tanah basah dengan tubuh yang gemetar hebat menahan ngeri.