KAMANDAKA : Pemilik Ketampanan Abadi

Langit Berawan
Chapter #44

BAB 44: Melarikan Diri Menuju Kamar Rahasia

"Cepat kunci pintunya dari dalam, Suarsih! Jangan biarkan selembar benang pun dari jubah para bajingan itu merusak sisa tempat bernaung kita!"

Suara Kamandaka terdengar parau dan tercekat di tenggorokan, memutus keheningan sunyi di ambang pintu bilik paviliun pribadinya. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki di tengah rasa sakit yang mendera sekujur tubuh tegap bidangnya, Kamandaka menyeret langkah kakinya yang gemetar hebat, menjauh dari koridor istana yang kian dipenuhi oleh mayat kasta ksatria otot dan genangan cairan merah pekat. Setiap tarikan napas bidangnya terasa bagai sayatan pisau dingin yang meremukkan rongga dadanya akibat hantaman gada besi Patih Bimaraksa. Ia berlari masuk kembali ke dalam kamar tidur paviliun pribadinya yang kini mulai dijilat oleh kobaran api besar dari arah pelataran luar.

Suarsih yang merangkak dengan gerakan tubuh ringkih mengikuti dari belakang langsung membanting daun pintu kayu tebal, menyelot gembok besi tempa gaib dengan kepanikan gila yang menindas batinnya. Wajah layu wanita paruh baya itu sepucat kain kafan pelindung jenazah, sepasang matanya menangis duka menyaksikan bagaimana kain sutra emas pakaian kebesaran Kamandaka telah hancur compang-camping berlumur noda hitam jelaga.

"Prabu Anom... darah di perut Anda terus mengalir deras membanjiri lantai papan ini!" jerit Suarsih dengan nada suara teramat sangat lembut namun bergetar hebat didera ketakutan ganjil yang melintasi batas nalar manusia biasa. "Mari hamba bopong menuju ranjang sutra, biarkan hamba membersihkan sisa cairan merah pekat ini menggunakan rebusan daun sirih hangat!"

Kamandaka mengeluarkan sebuah dendaan meremehkan yang teramat sangat dingin menusuk tulang, mengabaikan seluruh ratapan kesetiaan pelayan pribadinya. Tangannya yang berlumur darah bergerak cepat mencengkeram tepi lemari pakaian besar berukir naga emas, menggunakan seluruh sisa kekuatan otot lengan dan pundaknya untuk menggeser kayu jati tebal tersebut hingga celah rahim bumi kembali menganga lebar di depan mata.

"Jangan sentuh kulit kuning langsatku dengan tangan kasarmu, Perempuan Bodoh!" bentak Kamandaka dengan nada suara merdu beralun sangat tenang namun sedingin es puncak gunung, menyeka aliran air mata darah yang mulai mengaburkan indera penglihatannya. "Ranjang sutra Ratu tidak akan bisa menyembuhkan robekan kapak baja ini! Tiket emas keabadian fisiknya berada di bawah fondasi tanah ini! Aku harus segera menemui Jantung Neraka di dalam kotak cendana sebelum sel-sel kulit wajah rupawanku layu oleh pengaruh kutukan luar!"

Tanpa mempedulikan runtuhnya kain gorden sutra yang mulai terbakar api nyata di sekelilingnya, Kamandaka langsung melangkah ringkas masuk menembus pintu kayu tebal yang menyembunyikan undakan tangga terowongan rahasia. Gerakan kaki tegap bidangnya begitu terburu-buru, menuruni lorong gelap gulita yang menurun lurus menembus kegelapan total pekat rahim bumi menuju kamar bawah tanah tempat kotak cendana diletakkan secara sangat telaten.

Suarsih cepat-cepat menyusul dari belakang, memeluk erat sebuah mangkuk kuningan kosong di dadanya sembari merapalkan mantra keselamatan tradisi lereng Sindang Kasih. Hawa dingin pekat yang merembes keluar dari balik sela batuan bumi mulai menyengat indera penciuman mereka dengan kombinasi aroma anyir besi berkarat dan asap dupa belerang yang mematikan nalar sehat kemanusiaan.

Lihat selengkapnya