Kegelapan yang pekat mengunci rahim bumi dalam kesunyian yang teramat sangat mencekam jiwa. Di bawah ton-tonan tanah merah basah dan bongkahan batu bekas runtuhnya bangunan paviliun megah Kerajaan Galuh, waktu seolah berhenti bergulir secara normal. Tempat bernaung kemegahan yang dulu berbau wewangian mawar kini telah resmi menjelma menjadi sebuah liang lahat raksasa yang pengap dan dingin menusuk tulang. Di tengah posisi tubuhnya yang terjepit tak berdaya di antara runtuhan batu, tangan kanan Kamandaka secara ajaib masih mampu bergerak halus, mencengkeram erat gembok besi kotak kayu cendana rahasianya yang miring di atas gundukan tanah basah.
Di dalam kotak yang tertimbun bersama dirinya itulah, buah maja hitam beruratkan darah tetap berdenyut pelan dalam kegelapan pekat yang hampa spiritual. Deg... Deg... Deg... Setiap detak halus namun ritmis dari buah terkutuk tersebut seolah menjadi benang pengikat gaib yang menolak membiarkan jiwa Kamandaka lepas dari raganya, memaksanya untuk tetap sadar di dalam kuburan batu yang pengap. Sumpah darah malam Selasa Kliwon waktu lalu telah sah mengunci takdirnya secara linear melintasi dimensi ruang waktu manusia bumi Pasundan, merubah tiket emas ketampanannya menjadi sebuah rantai besi yang mengikat sukmanya dari kedalaman keheningan kubur.
"Kau mendengar suara detak ini, Suarsih?" tanya Kamandaka dalam bisikan batinnya yang tersiduk-siduk tersiksa, tidak mampu mengeluarkan nada suara merdu beralun miliknya karena rongga dadanya yang retak parah dihimpit batu besar. Rahang kokohnya mengatup keras memancarkan kegalauan narsistik yang kian hari kian sakit akut. "Buah terkutuk ini... dia sedang menertawakan kesombongan takabur masa mudaku di lereng Sindang Kasih. Dia menolak membiarkan tubuh indahku ini hancur menyatu dengan tanah kusam."
Suarsih yang terhimpit di sudut ceruk bumi yang sempit beberapa jengkal di sampingnya hanya bisa menggerakkan jemari tangannya yang kurus ringkih dengan lemas tak berdaya. Air mata kegetiran spiritual wanita paruh baya itu telah kering membasahi kain sarung batiknya yang anyir berlumur sisa cairan merah pekat tuannya.
"Buah maja itu sedang merawat kemurnian sel kulit wajah rupawan Anda, Prabu Anom," bisik Suarsih dengan sisa napas yang kian menipis di tenggorokan, suaranya terdengar teramat lembut namun menyimpan duka batin yang teramat sangat mendalam. "Namun, keabadian fisik ini adalah neraka dunia yang paling mengerikan bagi manusia seperti kita. Tubuh Anda dikunci agar menolak noda debu arena dan keriput waktu, namun indera perasa Anda tetap dipaksa menerima seratus persen nyata hantaman linu jarum es gaib ini seumur hidup."