"Sampai kapan besi ini akan terus memeras rongga dadaku, wahai sukmaku yang angkuh? Mengapa kematian sejati yang begitu murah bagi para kuli upahan di luar sana terasa begitu mahal untuk kubeli?"
Kamandaka berbisik lantang di dalam kesunyian benaknya sendiri. Nada bicaranya tidak lagi memancarkan melodi merdu yang dulu sanggup menyirep seantero Kerajaan Galuh, melainkan hanya menyisakan getaran kosong yang sarat akan keputusasaan gila melintasi batas nalar manusia biasa. Di dalam kegelapan total pekat rahim bumi tempatnya tertimbun bersama kotak cendana terkutuk, sepasang matanya yang tajam membelalak ngeri menatap kehampaan spiritual yang hampa tanpa ada secercah pun pendar cahaya luar yang merembes masuk.
Himpitan bongkahan batu seukuran gajah yang jatuh tepat di atas dadanya sejak malam runtuhnya paviliun membuat paru-paru Kamandaka tidak bisa mengembang dengan sempurna. Setiap detik yang bergulir secara linear selama puluhan tahun berubah menjadi sensasi tercekik yang terjadi terus-menerus tanpa ada ujung akhir kehidupan. Kerongkongannya tersiksa, tersiduk-siduk mencari pasokan udara di antara debu kuno yang pengap, menciptakan siklus penderitaan rasa sakit seratus persen nyata yang menolak kompromi dengan maut.
Dengan gerakan tangan yang teramat sangat kaku dan lemah didera linu jarum es gaib, jemari tangan kanan Kamandaka masih terus mencengkeram erat gembok besi tempa gaib kotak cendana di samping tubuh polosnya. Di dalam wadah beludru merah pekat itu, urat-urat keunguan sebutir buah maja hitam memancarkan hawa dingin pekat yang merayap menyusuri jalinan pembuluh darah saraf lengannya. Sistem magis dari Telaga Gaib dipaksa untuk terus bekerja secara minimal, mengunci fungsi organ vital dada bidangnya agar menolak hancur menyatu dengan tanah.
"Kau masih hidup di sana, Prabu Anom?" sebuah suara parau yang teramat lembut mendadak merayap membelah sunyi yang mencekam, memutus lamunan gila Kamandaka.
Suarsih menggeser tubuh ringkihnya secara perlahan, pelan, dan penuh kegetiran spiritual. Ujung jemarinya yang dingin meraba helai rambut hitam legam Kamandaka yang anehnya masih tetap sehalus serat awan dan beraroma mawar segar, menolak layu oleh pengaruh timbunan tanah merah basah selama berabad-baharu.
"Aku tidak tahu apakah tubuh compang-camping ini masih layak disebut hidup, Suarsih," bisik Kamandaka di dalam relung pikirannya yang mulai sakit akut meracuni seluruh kesadarannya yang takabur. Ia mencoba mengatupkan rahang kokohnya, namun hantaman ngilu dari tulang-tulangnya yang patah menolak untuk menyatu kembali dengan benar akibat ketiadaan nutrisi nasi putih atau air mawar sejati. "Setiap persendian di dada bidang dan otot lenganku memendam rasa linu yang teramat sangat tajam menusuk-nusuk saraf. Kulit kuning langsatku tetap sekencang kelopak kenanga mekar tanpa ada gurat keriput sedikit pun, namun di dalam dagingku... ada neraka jahanam yang sedang membakar seluruh urat syaraf kewarasan jiwaku."