Di atas permukaan tanah tempat Kamandaka tertimbun dalam posisi terjepit tak berdaya , sejarah terus bergerak maju secara linear tanpa memedulikan penderitaan nyata yang dialaminya di bawah perut bumi. Kerajaan Galuh yang dulu begitu megah, jaya, dan berlapis emas murni perlahan-lahan runtuh total dari muka bumi Pasundan. Sisa-sisa dinding dan menara kayu jati sepuh lapis perak murni yang semalam dibakar api pengkhianatan Patih Bimaraksa kini telah hancur lebur, digiling oleh roda waktu alam dan tertimbun oleh lapisan-lapisan tanah merah baru. Wilayah kota raja yang dulu bising oleh pawai militer berkuda perlahan-lahan berganti rupa menjadi sebuah rimba belantara yang lebat, sunyi, dan terisolasi dari peradaban manusia biasa. Nama Prabu Anom Kamandaka dan kisah pesona ketampanan ganjil tubuh bidangnya perlahan-lahan larut dari ingatan kolektif masyarakat, bergeser dari lembaran fakta sejarah kuno menjadi sekadar dongeng fiksi sampah pengantar tidur yang dianggap sebagai mitos belaka oleh generasi baru manusia bumi.
Ratusan tahun telah resmi berlalu sejak malam kejatuhan istana yang berdarah itu, dan Kamandaka telah sepenuhnya kehilangan seluruh indera perasa waktu manusianya. Bagi dirinya yang terperangkap di dalam kegelapan total pekat rahim bumi bersama kotak cendana berisi buah maja berdenyut, ukuran satu hari, satu tahun, atau satu abad kini terasa sama saja: sebuah pusaran penderitaan yang seratus persen nyata, tanpa memiliki ujung dan pangkal bagi sukmanya yang angkuh. Ia kian jarang mengerang parau atau menjerit histeris dalam batin; nadanya telah habis dihantam linu jarum es gaib, dan lapisan air mata darahnya telah lama mengering membasahi permukaan pipinya yang mulus. Himpitan bongkahan batu besar di atas rongga dadanya yang retak parah seolah telah menjelma menjadi bagian dari jalinan otot lengannya yang kokoh, menyisakan sesosok makhluk kuno berwajah rupawan sehalus porselenyang jiwanya telah lama mati di dalam kubur hidup yang pengap dan kusam.
"Apakah dunia di atas sana masih mengingat kemurnian sel kulit kuning langsatku, Suarsih?" tanya Kamandaka dalam bisikan batinnya yang terdengar teramat lemah, tipis, dan sarat akan kekosongan batin yang sedalam jurang hulu sungai. Rahang kokohnya yang kencang menolak noda debu ladang bergerak kaku memutus sunyi yang mencekam di bawah himpitan bumi yang beku. "Ataukah takhta emas duniaku telah sepenuhnya lumat ditelan oleh lumpur tanah kotor pedesaan yang dulu sangat kubenci?"
Suarsih yang terhimpit kaku di dekat undakan kaki tegap bidangnya tidak lagi mampu menggerakkan ujung jemari tangannya yang penuh kapalan kasar. Wanita tua paruh baya itu hanya bisa mengalirkan sisa-sisa energi spiritual kesetiaan butanya menembus kegelapan malam Selasa Kliwon lintas zaman yang mencekam jiwa.
"Galuh telah runtuh menjadi dongeng mitos pengantar tidur manusia baru, Prabu Anom," jawab Suarsih dengan suara yang teramat sangat lembut, merayap lirih menembus rongga tengkorak kepalanya yang putih bersih. "Tidak ada lagi nama ksatria menak atau barisan menteri tua bangka yang cemburu pada aroma mawar tubuh bidang Anda. Singgasana emas Ratu telah lama berubah menjadi abu yang kusam, dan tempat bernaung kemegahan kita kini sedang ditutup oleh hamparan beton dan besi pencakar langit kota metropolis bising luar fajar ini."