KAMANDAKA : Pemilik Ketampanan Abadi

Langit Berawan
Chapter #48

BAB 48: Impian Tentang Cahaya Matahari

Waktu terus bergulir tanpa ampun membelah keheningan sunyi di bawah perut bumi yang pengap. Memasuki abad ketiga dalam timbunan runtuhan Istana Galuh yang telah runtuh menjadi puing dongeng, alam semesta di atas permukaan tanah mulai menuntut haknya atas puing-puing peradaban kuno yang terkubur. Akar-akar pohon purba yang tumbuh rimbun di atas tanah merah basah mulai merembes masuk jauh, membelah sela-sela batuan dan dinding batu yang menghimpit ruang bawah tanah tempat Kamandaka berada. Beberapa ujung akar yang halus, tajam, dan dingin merayap perlahan dalam kegelapan pekat yang hampa, menembus pakaian emas kebesaran Kamandaka yang telah usang didera kelembapan bumi selama ratusan tahun.

Ujung-ujung akar purba itu menyentuh kulit kuning langsat rahang kokoh dan dada bidang Kamandaka yang anehnya tetap kencang, mulus, bersinar menolak bintik hitam, dan sama sekali menolak untuk membusuk. Kamandaka merasakan sentuhan dingin jalinan akar tersebut bagai jemari hantu kelaparan yang sedang meraba sekujur tubuhnya secara telaten, mengambil sisa-sisa energi manusianya untuk dialirkan kembali menuju pepohonan tinggi di atas permukaan tanah. Sentuhan itu tidak mengirimkan rasa sakit, melainkan sebuah linu yang teramat sangat menusuk-nusuk saraf, mengingatkannya bahwa ia kini hanyalah seonggok mayat hidup yang dipaksa menjadi budak bagi vegetasi alam seumur hidup..

"Kau merasakannya juga, Suarsih?" bisik Kamandaka di dalam relung pikiran manusianya yang kian hari kian sakit akut didera kegalauan narsistik. Sepasang matanya yang tajam tetap membelalak ngeri menatap kegelapan total pekat rahim bumi, menolak untuk terlihat kerdil meskipun posisinya terjepit tak berdaya di antara himpitan batu hitam terlarang. "Akar-akar ini... mereka sedang mengisap sisa-sisa kegagahanku dari dalam pembuluh darah pergelangan tangan kiri. Mereka mengira bisa melayukan sel kulit wajah rupawanku yang menolak noda debu arena ini."

Kesunyian malam Selasa Kliwon lintas abad menyisakan kesusahan yang teramat sangat mencekam jiwa di dalam ceruk bumi yang sempit itu. Di sudut reruntuhan yang miring, tidak ada lagi jawaban suara parau yang lembut dari pelayan pribadinya. Suarsih telah lama terlelap dalam kepasrahan batin yang mendalam, mengunci mulut manusianya dalam diam yang membakar dada demi menemani tidur panjang sang Prabu Anom yang takabur.

"Mereka tidak akan pernah bisa mencuri ketampanan abadi ini, Suarsih," lanjut Kamandaka dalam jeritan batinnya yang datar namun sarat akan keangkuhan ksatria sejati yang menolak kalah dari hukum kelayuan fisik. Jemari tangan kanannya yang halus bergetar hebat, kian mengencangkan cengkeramannya pada gembok besi tempa gaib kotak kayu cendana rahasianya. "Seberapa keras pun pohon-pohon kerdil di atas sana memeras bumi, tubuh satria Arjuna ini adalah tuhan kecil baru yang akan tetap tegak lurus seimbang sempurna di bawah kuasa takdirku sendiri."

Namun, di balik topeng kesombongan gila yang kian bernanah di dalam lubang dadanya, hubungan spiritual antara Kamandaka dan sebutir buah maja hitam di dalam kotak cendana kian hari kian menyatu dengan sangat erat, pekat, dan mengerikan melintasi batas nalar manusia biasa. Kamandaka tidak lagi mampu merasakan getaran detak jantung manusianya sendiri di dalam rongga dada bidang kokohnya; setiap denyut kehidupan, aliran cairan merah pekat, serta proses regenerasi sel yang ia miliki kini sepenuhnya telah diambil alih dan diatur oleh ritme berdegup yang kaku dari buah maja hitam beruratkan darah tersebut.

Lihat selengkapnya