"Suarsih... kau mendengar suara gemuruh parau di atas tanah itu? Apakah Patih Bimaraksa telah kembali membawa pasukan gada besi barat untuk membongkar paksa sisa liang lahat kita?"
Kamandaka berbisik lirih di dalam relung pikiran manusianya yang telah lama membeku. Nada bicaranya bergaung kaku, tersiduk-siduk menembus sunyi yang mencekam di bawah himpitan bumi yang dingin. Sepasang matanya yang tajam mendadak membelalak ngeri di tengah kegelapan total pekat rahim bumi, terusik oleh sebuah getaran aneh yang ganjil yang merembes masuk melalui sela-sela batuan yang menghimpit dada bidang kokohnya sejak abad lalu.
Getaran itu terasa sangat berbeda. Itu bukan berasal dari gempa bumi alami perbukitan Galuh, bukan pula derap langkah kaki kuda purba milik para ksatria menak yang dulu memuja kemurnian sel kulit kuning langsatnya. Suara itu terdengar jelas, berat, bising, dan berdengung kencang seumpama raungan monster besi raksasa yang sedang mencakar-cakar tanah dengan tamak dari atas permukaan bumi .
"Tidak ada lagi Patih Bimaraksa atau silsilah ksatria otot istana di atas sana, Jang Kamandaka," sebuah suara parau yang teramat sangat lembut merayap lirih dari sudut ceruk bumi yang sempit, memutus kegalauan narsistik sang Prabu Anom.
Suarsih menggerakkan jemari tangannya yang kurus ringkih dengan lemas tak berdaya, mencoba meraba permukaan gembok besi tempa gaib kotak kayu cendana rahasia yang masih dicengkeram erat oleh pergelangan tangan kiri tuannya sejak bab sebelumnya. Air mata duka cita spiritualnya telah lama mengering membasahi kain sarung batiknya yang usang didera kelembapan waktu alam selama berabad-abad lamanya.
"Hamba merasakan hawa udara yang kotor penuh asap knalpot dan bau anyir besi berkarat merembes turun membelah hawa wewangian mawar tubuh bidang Anda," bisik Suarsih dengan sisa napas yang kian kesat di tenggorokan. "Manusia zaman baru telah tiba dengan monster-monster besi mereka. Skenario masa depan linear yang diramalkan resi tua bangka di pinggir telaga air beku dulu malam ini resmi membuka pintu teater mautnya."