KAMANDAKA : Pemilik Ketampanan Abadi

Langit Berawan
Chapter #50

BAB 50: Rumah Jagal Sang Prabu Anom

"Apakah ini api pembakatan mayat yang dikirim oleh Patih Bimaraksa untuk membakar habis sisa sukmaku, Suarsih? Mengapa mataku terasa begitu perih bagai ditusuk jutaan jarum es?"

Kamandaka merintih parau dalam bisikan batinnya yang perlahan mulai menjelma menjadi suara manusia sejati. Urat-urat di leher tegap bidangnya menegang keras saat kelopak matanya yang telah terpejam selama berabad-abad dipaksa menerima seberkas kilatan cahaya buatan yang amat menyilaukan. Cahaya putih benderang dari lampu sorot tim arkeolog modern itu menembus celah runtuhan batu yang baru saja dihancurkan oleh rauan monster besi. Rasa perih yang teramat sangat luar biasa dahsyat menyengat indera penglihatannya yang telah lama layu di dalam kegelapan pekat rahim bumi, memaksanya untuk menggerakkan bola matanya dengan sangat lambat di balik kelopak yang kaku dan kusam.

"Bukan api, Prabu Anom... Ini adalah pendar cahaya dari zaman baru yang menuntut tubuh indah Anda untuk kembali menjadi tontonan dunia ," sebuah suara parau yang teramat lembut dan akrab merayap lirih dari balik gundukan tanah basah di samping dipannya.

Suarsih menggerakkan jemari tangannya yang penuh kapalan kasar kasta pekerja secara telaten, pelan, dan penuh kegetiran spiritual. Meskipun tubuh ringkihnya telah melintasi dimensi ruang waktu selama ratusan tahun, kesetiaan buta seorang pelayan tradisi lereng Sindang Kasih membuatnya tetap bertahan menjadi saksi bisu dari bangkitnya sang pangeran muda yang takabur.

"Aku tidak sudi menjadi tontonan manusia-manusia kerdil masa kini, Suarsih!" bentak Kamandaka dengan nada suara merdu beralun yang mulai kembali memancarkan wibawa ksatria sejati, meskipun tubuh tegap bidang polosnya masih terjepit tak berdaya di antara himpitan batu. Ia mengatupkan rahang kokohnya yang putih bersih mulus menolak noda debu ladang kopi, meraba permukaan kotak kayu cendana rahasia di tangan kanannya yang kini telah retak parah akibat guncangan mesin bor. "Kuncilah kembali pintu rahim bumi ini! Wajah tanpa cela dan dada bidang kokohku ini diciptakan untuk menerima sematan mahkota emas Ratu Galuh, bukan untuk terpapar oleh pendar cahaya aneh yang merusak sel kulitku!"

Namun, keluh kesah keangkuhan narsistik Kamandaka yang kian hari kian sakit akut itu mendadak lumat oleh terjangan realitas biologis yang teramat sangat mengerikan. Masuknya aliran udara baru yang deras dari permukaan tanah luar seketika memenuhi rongga kamar rahasia bawah tanah yang telah berbau debu ratusan tahun dan asap dupa belerang. Oksigen segar zaman modern yang dihirup oleh paru-paru Kamandaka yang hancur akibat himpitan batu besarĀ terasa teramat sangat perih, seolah-olah ia sedang menelan jutaan serpihan kaca tajam yang membakar dinding tenggorokannya dari dalam secara mendadak.

"A-akhhh! Perutku... dadaku bagai dibedah oleh parang ksatria musuh secara nyata, Suarsih!" Kamandaka terengah-engah hebat, rongga dadanya yang retak parah bergerak naik turun dengan sangat tersiksa laksana mangsa binatang buas yang sedang digiling di antara himpitan batu hitam terlarang.

Fungsi organ vital manusianya dipaksa bekerja kembali secara mendadak oleh sistem magis dari dalam jantung sebutir buah maja hitam beruratkan darah di dalam kotak cendana. Deg... Deg... Deg... Bunyi detak kaku jantung monster kelaparan itu mengalirkan hawa dingin pekat menyusuri jalinan pembuluh darah tangan kirinya, memancarkan getaran spiritual yang memaksa sel-sel kulit kuning langsatnya untuk kembali mengencang sehalus sutra.

"Rasa perih ini adalah tanda bahwa kutukan darah keabadian fisik Anda sedang menuntut bayaran spiritual pertamanya di abad modern ini, Jang Kamandaka," bisik Suarsih dengan sepasang mata layu yang menangis duka menatap dirinya yang compang-camping, namun tetap memancarkan pesona tampilan yang menindas nalar sehat manusia biasa. Ia merangkak lambat memeluk kain sarung batik Pasundan miliknya yang telah berubah warna menjadi merah tua pekat kehitaman. "Sihir kegelapan hulu sungai terlarang tidak akan membiarkan sukmanya yang angkuh beristirahat dalam kepasrahan batin. Anda dipaksa bangun dari tidur panjang untuk menghadapi teater pembantaian nyata yang jauh lebih sadis di depan lautan pasang mata manusia abad metropolis ini."

Kamandaka mengerang parau, membusungkan dadanya yang kokoh polos menantang siraman lampu neon tim arkeolog yang kian hari kian terang benderang membongkar sisa-sisa reruntuhan paviliun pribadinya. Rasa linu jarum es gaib meremukkan sisa-sisa waras jiwanya dalam hitungan detik, mengirimkan penderitaan rasa sakit seratus persen nyata yang melintasi batas kewajaran manusia .

"Diam kau, Perempuan Bodoh!" bentak Kamandaka penuh keangkuhan takabur yang kian melonjak tinggi terbang melintasi batas khayangan tertinggi, menolak untuk tunduk atau terlihat kerdil di hadapan perubahan zaman baru yang kotor penuh asap knalpot. "Seberapa keras pun oksigenĀ ini mencoba membakar tenggorokanku, wajah rupawan tanpa cela dan rahang kokoh ini tidak akan pernah bisa disentuh oleh pembusukan liang lahat yang kotor atau hancur dimakan usia waktu seumur hidup! Aku adalah penguasa abadi yang memegang tiket emas kejayaan!"

Lihat selengkapnya