Kamar Gelap Merah

kholid alamsyah
Chapter #1

Menatap Luka Lewat Lensa

Layar monitor 27 inci di hadapan Reno memancarkan pendar biru yang dingin. Di ruangan berukuran tiga kali empat meter itu, hanya ada dua suara yang terdengar: dengung kipas prosesor komputer dan detak jarum jam dinding yang enggan berkompromi dengan malam.

Dengan gerakan jemari yang presisi, Reno menggeser kursor stylus di atas kepingan drawing tablet. Ia memperbesar resolusi foto hitam-putih berusia setengah abad: seorang wanita bergaun renda dengan senyum tipis yang memudar digerus jamur dan goresan masa lalu. Satu per satu goresan itu ia pulihkan—menghapus debu digital, meratakan warna yang pudar, mengembalikan senyum yang nyaris hilang.

Pekerjaan Reno adalah merestorasi kenangan orang lain. Namun, ada satu kenangan di kepalanya sendiri yang tak pernah bisa ia bersihkan, sekeras apa pun ia berusaha.

Brak.

Pena digital di tangan Reno terlepas. Sudut kiri foto tua di layarnya mendadak seolah berubah bentuk. Bukan lagi foto wanita bergaun renda, melainkan kilatan pecahan kaca mobil, raungan sirine, dan genangan air hujan yang berubah warna menjadi merah pekat.

Napas Reno mendadak tertahan di tenggorokan. Udara di ruangan itu terasa menghilang dalam sekejap. Dadanya terhimpit seperti ditindih balok beton.

Bukan sekarang. Tolong, jangan sekarang.

Reno memejamkan mata rapat-rapat, mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin menetes dari pelipisnya, menetes tepat di atas alas kursor. Panic attack itu datang lagi tanpa peringatan, membawa kembali seluruh bau, suara, dan rasa sakit dari malam nahas tiga tahun lalu yang menghancurkan hidupnya.

"Reno?"

Sebuah sentuhan lembut beraroma vanila mendarat di bahunya. Sentuhan yang hangat dan akrab.

Reno membuka mata perlahan. Pandangannya kabur sebelum akhirnya memfokuskan sosok Nara yang berdiri di samping mejanya. Perempuan itu mengenakan mantel cokelat, memegang kotak makanan hangat dan termos kecil.

Lihat selengkapnya