Kamar Gelap Merah

kholid alamsyah
Chapter #2

Transaksi Kamar Gelap

Pintu kayu bertuliskan Toko Kamera & Kamar Gelap Merah berdenting pelan saat Reno mendorongnya. Bau khas cairan kimia pemroses foto—campuran developer dan fixer yang asam melengat—langsung menyengat indra penciumannya. Ruangan itu sempit, dikepung rak-rak kayu tua berisi ratusan gulungan klise film hitam-putih yang berdebu.

Di balik meja kasir tinggi, seorang pria paruh baya berambut perak dengan kaca mata bundar menatap Reno. Jemarinya yang keriput sedang telaten membersihkan lensa kamera tua dengan kain mikrofiber.

"Setiap orang yang melangkah masuk ke sini selalu membawa beban yang sama, Nak," kata pria itu. Suaranya rendah dan mantap, bergema halus di antara dinding kayu. "Ingatan yang membusuk di dalam kepala, tapi terlalu keras kepala untuk dilupakan."

Reno menelan ludah. Bator dadanya masih naik-turun oleh sisa-sisa kepanikan. "Apa tempat ini benar-benar bisa... menghapus kenangan?"

Pria itu terkekeh pelan, meletakkan lensanya. "Hukum alam tidak mengizinkan ketiadaan, anak muda. Rasa sakit di dalam kepalamu tidak bisa ditiadakan begitu saja—harus ada penukaran. Untuk melepaskan ingatan paling terpurukmu, kamu harus mengambil satu kenangan paling bahagia milik orang lain."

"Milik orang asing?" tanya Reno ragu.

"Milik seseorang yang bersedia menyimpannya di tempat ini," jawab sang pemilik toko seraya menunjuk ke arah pintu belakang yang tertutup kain tirai beludru merah. "Memori bahagianya akan mengisi ruang kosong di kepalamu, menggantikan ingatan burukmu. Tapi ingat, setiap ingatan punya rasa. Kamu akan membawa perasaan milik orang lain."

Reno memikirkan malam-malam panjang penuh penderitaan, panic attack yang melumpuhkannya, dan tatapan penuh kasihan dari Nara. Ia sudah lelah menjadi pria yang rusak.

"Lakukan," bisik Reno tegas. "Tukar ingatan saya."

Pria itu menatap Reno lama, seolah menakar kesungguhannya, sebelum akhirnya mengangguk pelan. Ia menyibak tirai merah dan menuntun Reno masuk ke dalam kamar gelap.

Ruangan kecil itu hanya diterangi satu bola lampu merah remang-remang. Di tengah ruangan, terdapat sebuah kursi kayu tua di hadapan baki berisi cairan kimia foto. Pria itu meminta Reno duduk dan memejamkan mata.

Lihat selengkapnya