Aroma kopi hangat mengisi sudut studio foto Reno pagi itu. Di atas meja kerjanya, cangkir keramik yang dibawakan Nara tadi malam masih menyisakan garis cokelat tipis di bagian dasar. Reno menatap layar monitornya yang mati, memantulkan bayangan wajahnya sendiri.
Secara fisik, ia tampak jauh lebih segar. Lingkar hitam di bawah matanya mulai pudar, dan jemarinya tak lagi gemetar saat memegang pena digital. Namun, dada Reno terasa seperti ruang kosong yang lapang—bersih, namun sunyi tanpa nyawa.
Suara gemerincing bel pintu kaca studio membuyarkan lamunan Reno.
"Selamat pagi, maaf mengganggu jam bukanya," ujar sebuah suara halus dari arah pintu.
Reno menoleh. Detik itu juga, seluruh pasokan udara di dalam dadanya seolah terisap keluar.
Seorang wanita muda berdiri di dekat pintu, mengenakan apron kain cokelat berbau harum kelopak bunga mawar dan tanah basah. Rambut sebahu yang sedikit bergelombang, mata bening yang hangat, dan garis rahang yang begitu akrab. Ia adalah wanita yang ada di dalam mimpi Reno tadi malam—pemilik asli dari kenangan bahagia yang kini bersarang di kepala Reno.
"Permisi? Mas?" panggil wanita itu pelan, agak canggung karena Reno menatapnya tanpa berkedip.
"Ah... iya, maaf," jawab Reno gagap, cepat-cepat berdiri dari kursi putarnya. Dadanya berdebar hebat, jenis debaran kuat yang sama persis seperti saat ia merasakan kebahagiaan meletup-letup di kamar gelap kemarin. "Ada yang bisa saya bantu?"
Perempuan itu tersenyum tipis—senyuman renyah yang merambat naik sampai ke sudut matanya, persis seperti di dalam klise foto fiktif milik Reno. Ia mendekat ke meja kasir dan meletakkan sebuah amplop cokelat kusam.