Gantungan kunci di jemari Nara tidak lagi berdenting. Ia tidak memekik, tidak juga menuding. Hanya matanya yang bergerak lambat—memindai foto tua di atas meja, jemari Reno yang masih mengambang seolah baru saja melepaskan sesuatu, lalu berakhir di wajah Shena.
"Maaf," suara Shena memecah udara kaku itu. Ia membetulkan tali apronnya yang tidak miring, gestur refleks orang yang tahu dirinya terperangkap di tengah adegan yang salah. "Saya permisi dulu, Mas. Soal fotonya, nanti tolong kabari saya kalau sudah ada gambaran waktunya."
Shena merogoh saku, mencoretkan nomor telepon di secarik kertas tanda terima, lalu meninggalkannya di tepi meja. Saat ia melangkah keluar, bel pintu hanya berdenting sekali—singkat dan dingin.
Ruangan itu mendadak terlalu lapang.
Nara berjalan mendekat. Langkah kakinya tanpa suara di atas lantai semen poles. Ia meletakkan kunci mobil di samping kertas tulisan tangan Shena. Jarak antara dua benda itu tak sampai sejengkal, tapi terasa seperti bentangan jurang.
"Bunga matahari," kata Nara pelan. Tangannya terulur, menunjuk ujung foto yang sudutnya terkelupas. "Perempuan tadi bau bunga matahari."
Reno menelan ludah yang terasa kesat di kerongkongan. "Dia cuma pelanggan, Ra. Mau benerin foto kakeknya."
"Aku tahu," jawab Nara tenang. Terlalu tenang. "Aku tidak menanya dia siapa, Ren."
Jawaban itu memukul Reno lebih telak daripada tuduhan terbuka. Nara mengenal Reno luar dalam—ia paham tiap ketukan napas Reno saat cemas, paham lipatan tipis di antara alisnya saat berbohong, dan yang paling parah, ia tahu persis bagaimana mata Reno bertatapan dengan seseorang yang memiliki ruang di hatinya.