Kamar Gelap Merah

kholid alamsyah
Chapter #5

Harga Sebuah Cangkang

Kota Tua di atas pukul dua belas malam selalu menyisa lengang yang asing. Bau aspal basah bercampur aroma lapuk kayu peninggalan era kolonial menusuk tajam saat Reno merapatkan jaketnya, menyusuri gang sempit yang kemarin malam ia temukan secara tidak sengaja.

Lampu jalan tunggal itu masih berkedip samar. Papan kayu tua berderit pelan ditiup angin malam.

"Toko Kamera & Kamar Gelap Merah"

Reno tidak mengetuk. Ia langsung mendorong pintu kayu itu. Denting lonceng kuno menyambutnya, disusul keheningan yang sama dengan kemarin: baunya, suhu udaranya yang agak lembap, serta deretan roll film tua yang tergantung seperti tirai kain kusam.

Pria paruh baya berambut perak itu sedang duduk di balik meja kasir. Kali ini ia tidak memegang lensa, melainkan sedang memotong kertas foto dengan pisau pemotong manual. Bunyi sreeek... sreeek... dari mata pisau yang membelah serat kertas terasa tajam di telinga Reno.

"Kembali semerah ini, Nak?" pria itu bersuara tanpa menengadah. "Biasanya orang-orang butuh waktu berminggu-minggu sampai sadar ada rasa manis yang tertinggal di tenggorokan mereka."

Reno melangkah mendekat, kedua tangannya tertancap di saku jaket. "Wanita pemilik kenangan ini... dia datang ke toko saya tadi pagi."

Pria itu menghentikan gerakan pisaunya. Ia mendongak, menatap Reno dari balik kacamata bundarnya dengan pandangan datar yang sukar dibaca.

"Lalu?"

Lihat selengkapnya