Kamar Gelap Merah

kholid alamsyah
Chapter #6

Warna Abu-Abu dan Kebohongan Rapi

Pagi berganti tanpa keajaiban. Sinar matahari pukul delapan menembus celah gorden apartemen Nara, memantulkan pendar tipis pada lembaran katalog warna yang berserakan di atas meja makan.

Aroma kopi bubuk dan mentega terbakar mengisi dapur kecil itu. Nara berdiri di depan kompor, membelakangi Reno, membalik roti tawar dengan spatula kayu. Gerakannya teratur, terlalu teratur, seolah setiap jengkal tindakannya sudah dihitung agar tidak menyisa ruang untuk jeda canggung.

Reno duduk di kursi kayu, jemarinya mengusap kartu-kartu contoh warna cat dinding di hadapannya.

"Menurutmu mana yang lebih pas untuk studio arsitek di Kebayoran, Ren?" suara Nara terdengar meredam di balik dengung mesin pemanggang. "Antara Warm Beige atau Urban Slate?"

Reno menatap dua sampel kartu di tangannya. Dulu, ia bisa dengan cepat memberi pendapat bernas—mengomentari bagaimana pencahayaan alami akan memantulkan warna itu di sore hari, atau bagaimana tekstur semen akan berpadu dengan kayu mahoni. Dulu, mereka adalah pasangan yang saling melengkapi dalam estetika dan rasa.

Hari ini, dua warna itu hanya tampak sebagai dua keping kertas karton tanpa arti.

"Yang... Warm Beige sepertinya lebih ramah," jawab Reno. Suaranya terdengar terlalu rata, seperti membaca naskah dari layar.

Nara mematikan kompor. Ia berbalik membawa dua piring roti panggang, memandang Reno beberapa detik sebelum meletakkannya di meja. Ada lipatan tipis yang tak biasa di sudut alisnya.

"Kamu bahkan tidak memegang sampelnya dekat jendela, Ren," kata Nara pelan, memotong roti tanpa menatapnya. "Dulu kamu selalu menyeret kartunya ke dekat sinar matahari dulu."

Reno mematung. Jemarinya yang memegang kartu kertas mendadak kaku. "Maaf. Agak kurang fokus pagi ini."

"Kamu kurang tidur lagi," balas Nara, kali ini suaranya lembut, namun kejujuran dingin di baliknya menusuk tajam. Nara meraih cangkir kopinya, menyesapnya perlahan. "Atau pikiranmu masih tertinggal di studio?"

Lihat selengkapnya