Kamar Gelap Merah

kholid alamsyah
Chapter #7

Detail yang Seharusnya Hilang

Reno membiarkan ponselnya bergetar tiga kali di atas meja sebelum menggeser ikon hijau. Suara desis tipis dari sambungan telepon mengudara, menyatu dengan detak jarum jam dinding studio.

"Mas Reno?" suara Shena terdengar agak terengah, seolah ia baru saja berlari atau menahan napas terlalu lama. "Soal pesan Mas barusan..."

"Iya, Mbak Shena?" Reno berusaha menetralkan suaranya, memegang erat pinggiran meja monitor.

"Dari mana Mas Reno tahu pintu gubuk itu warnanya hijau mengelupas?" tanya Shena pelan, mengalirkan kebingungan yang nyata. "Foto fisik yang saya kasih itu sudah memutih kena jamur di bagian bawahnya. Kakek juga tidak pernah menceritakan detail warna pintu itu ke orang lain. Saya sendiri baru ingat warna hijau itu setelah Mas Reno sebutkan di pesan."

Dingin yang asing merayap ke tengkuk Reno. Kesalahannya begitu ceroboh. Memori buatan di kepalanya terlalu jernih hingga ia lupa batas antara apa yang terlihat di layar monitor dan apa yang hanya ada dalam ingatannya.

"Ah... itu," Reno berdeham cepat, otaknya berputar keras merakit alasan. "Waktu saya scan dengan resolusi tinggi dan pakai filter kontras pencahayaan khusus, sisa-sisa pigmen warna lamanya masih kebaca di piksel dasar, Mbak. Kebetulan tekstur cat mengelupas itu punya pola garis yang khas untuk kayu tua era itu. Saya cuma menebak berdasarkan sisa kontrasnya."

Hening sejenak di ujung telepon. Reno bisa mendengar embusan napas halus Shena, disusul suara gesekan lembut—seperti jemari yang sedang meraba helai kelopak bunga.

Lihat selengkapnya