Hujan sore turun tanpa suara pertanda, hanya menyisakan derak air yang memantul di kaca depan studio. Pukul lima tepat, guncangan halus pada pintu kaca disusul denting lonceng kuno menandai kedatangan Shena.
Ia datang membawa aroma hujan yang bercampur dengan wangi bunga freesia segar—sangat bertolak belakang dengan bau cairan kimia tua dan kertas lembap yang biasanya mengendap di ruangan Reno. Bintik-bintik air menggantung di ujung rambut sebahunya, memantulkan pendar kuning dari lampu gantung studio.
"Maaf kalau saya agak terlambat, Mas," ujar Shena seraya mengibaskan mantel tipisnya. "Jalanan Kota Tua agak macet karena genangan."
"Tidak apa-apa, Mbak. Saya baru saja merapikan pencahayaan bagian latar belakangnya," sahut Reno. Tangannya yang memegang pengerat tetikus mendadak dingin saat Shena melangkah mendekati meja kerjanya.
Shena membungkuk sedikit di samping kursi Reno, menyandarkan tumpuan tangannya di tepi meja. Jarak mereka tak sampai separuh lengan. Reno bisa merasakan kehangatan yang terpancar dari tubuh wanita itu—sebuah presensi yang seketika membuat badai cemas di dalam kepalanya surut, digantikan oleh gelombang kenyamanan yang kuat dan berbahaya.
"Ini..." Shena menahan napas. Matanya yang jernih membesar saat menatap monitor 27 inci di hadapannya.
Di layar, foto tua itu telah hidup kembali. Gubuk kayu di pojok kanan bawah memancarkan cat hijau tua dengan guratan halus bekas terkelupas di gagang pintunya. Sosok kakek Shena berdiri gagah di antara hamparan bunga matahari, lengkap dengan garis-garis halus di sudut matanya yang menunjukkan kedalaman rasa sayangnya.
"Bagaimana Mas Reno bisa..." Shena menghentikan kalimatnya. Jemarinya terulur pelan, menyentuh permukaan layar monitor tepat di atas wajah kakeknya. Tangannya gemetar halus.