Kamar Gelap Merah

kholid alamsyah
Chapter #9

Bening yang Pecah

Air hujan menetes dari ujung mantel Nara, membentuk genangan kecil di atas lantai semen poles. Suara detik jam dinding yang biasanya tersamar kini terdengar nyaring, memotong keheningan tebal yang menghimpit studio.

"Nara," panggil Reno seraya refleks berdiri. Tungkai kakinya terasa kaku, hampir menyenggol sudut meja.

Shena yang menyadari aura ketegangan di antara pasangan itu bergerak mundur secara perlahan. Tangan kanannya merapat ke pinggang, meremas apron cokelatnya sendiri. "Maaf... sepertinya saya mengganggu. Saya—"

"Tidak," potong Nara halus. Tangannya yang memegang map tebal tidak gemetar, tetapi buku-buku jarinya memutih keras. Tangannya terulur meletakkan map itu di atas meja kasir paling depan—jauh dari meja kerja Reno. "Aku cuma mau mengantar papan sampel ini, Ren. Kamu tadi bilang mau membantu mengedit berkas presentasi untuk besok."

Reno menelan ludah. Rasa bersalah yang tertahan di tenggorokannya bagai duri tajam. "Ra, aku... aku minta maaf. Pekerjaan foto ini agak menyita waktu, jadi aku kehilangan jejak jam."

Nara menatap Reno. Tidak ada kilat amarah di matanya, hanya ada riak kekecewaan yang sangat tenang—jenis tenang yang justru paling menakutkan. Matanya beralih perlahan ke layar monitor besar, menatap foto kebun bunga matahari yang memancarkan pendar kuning hangat.

"Foto yang bagus," kata Nara pelan. "Pantas kamu lupa."

"Mbak... ini benar-benar salah saya," Shena akhirnya angkat bicara, suaranya dipenuhi rasa tidak enak yang mendalam. "Saya yang minta Mas Reno menunjukkan hasil restorasi ini sore ini. Mas Reno cuma menjalankan tugasnya sebagai profesional."

Nara menoleh, menatap Shena dengan sudut mata yang teduh namun berjarak. "Saya tidak menyalahkan Anda, Mbak. Reno memang selalu begitu kalau sedang mengerjakan hal yang disukainya."

Lihat selengkapnya