Hujan di luar tidak meredam bunyi pintu yang tertutup. Reno berdiri mematung di ambang pintu, menatap bayangan Nara yang perlahan menghilang di balik tirai air malam. Tubuhnya dingin, basah oleh cipratan air hujan yang terbawa angin, tetapi dadanya jauh lebih dingin.
Ia mencoba merasakan penyesalan. Ia mencoba memancing rasa takut akan kehilangan perempuan yang telah menemaninya melewati masa-masa tergelap. Namun, mekanisme emosi di dalam kepalanya menolak bekerja. Sensasi tumpul itu seperti dinding tebal yang menyerap semua rasa bersalah sebelum sempat menyentuh hatinya.
Reno memutar tubuhnya, melangkah kembali ke dalam studio.
Lantai semen yang tadi dipijak Nara kini menyisa bekas tapak sepatu yang basah dan kotor. Di atas meja kasir, map tebal berisi sampel warna cat milik Nara tergeletak begitu saja. Reno melangkah mendekat, menggeser jemarinya di atas lembaran kertas bertuliskan Warm Beige.
Dulu, Nara selalu meminta pendapatnya tentang hal-hal kecil seperti ini karena ia percaya pada mata estetika Reno. Sekarang, kertas-kertas sampel itu tidak lebih dari tumpukan limbah warna yang tak memicu emosi apa pun di dalam dadanya.
Ponsel di dalam saku celana Reno bergetar. Satu getaran panjang.
Ia merogohnya dengan jemari yang masih agak gemetar, berharap—atau mungkin takut—itu adalah pesan dari Nara. Namun, layar teleponnya justru menampilkan nama yang tidak ingin ia lihat malam ini: Shena.
Reno menatap layar itu beberapa detik sebelum menekan tombol terima.
"Mas Reno?" suara Shena terdengar cemas di ujung telepon. "Maaf, saya cuma mau memastikan... Mbak Nara baik-baik saja, kan? Saya merasa sangat tidak enak atas kejadian tadi."