Layar monitor memancarkan pendar putih yang menyengat mata Reno. Papan nama kayu berukuran mikroskopis di latar belakang foto itu—Toko Kamera & Kamar Gelap Merah—terpampang begitu nyata di antara piksel-piksel yang ia perbesar.
Dada Reno bergemuruh. Bagaimana mungkin sebuah toko misterius yang baru ia temukan di gang sepi Kota Tua dua hari lalu, sudah berdiri di kebun bunga matahari tempat Shena kecil bermain delapan belas tahun yang lalu?
Reno meraih papan pengerat stylus, tangannya bergetar saat ia mengisolasi area latar belakang tersebut. Ia mencetak (print) gambar beresolusi tinggi khusus untuk bagian latar belakang itu di atas kertas foto glosi berukuran sepuluh senti.
Ia harus mendapatkan jawaban malam ini juga.
Reno mematikan monitor, menyambar jaketnya yang masih agak basah, dan melangkah keluar dari studio. Hujan deras telah reda, menyisakan kabut tipis dan genangan air yang memantulkan lampu-lampu jalanan Kota Tua yang temaram.
Gang sempit itu masih sama. Bau lapuk dan derit papan kayu yang berayun ditiup angin dingin menyambut langkah terburu-buru Reno. Tanpa membuang waktu, ia memutar gagang pintu kayu Toko Kamera & Kamar Gelap Merah.
Lonceng berdenting nyaring.
Pria paruh baya berambut perak itu sedang berdiri di dekat rak-rak klise, memegang sebuah botol kaca berisi larutan developer yang berwarna cokelat pekat. Ia menoleh perlahan, tak tampak terkejut sedikit pun melihat Reno kembali untuk ketiga kalinya dalam rentang waktu yang singkat.
"Pria yang sedang terdesak selalu berjalan lebih cepat dari bayangannya sendiri," kata pria itu tenang, meletakkan botol kaca ke atas meja.