Kamar Gelap Merah

kholid alamsyah
Chapter #12

Api di Balik Kebun Bunga

Asap kretek menyengat hidung Reno saat ia melangkah mundur secara perlahan. Pria berambut perak di balik meja kasir itu tidak bergerak, hanya menatapnya dengan pendar mata yang redup—dingin dan tak tersentuh oleh rasa iba.

"Kembalikan," bisik Reno, suaranya gemetar parah. "Ambil lagi memori ini. Jangan biarkan trauma itu bangun di kepalanya!"

Pria itu mengepulkan asap ke udara. "Sudah kukatakan, Reno. Kunci yang sudah patah di dalam lubang tidak bisa dicabut begitu saja. Selama kamu menyimpan kebahagiaan itu, ruang yang ditinggalkannya di dalam dada perempuan itu akan diisi oleh sisa-sisa api yang dulu dipadamkan kakeknya."

Reno berbalik dan menerobos pintu kayu tanpa membalas lagi. Bel berdenting liar saat ia berlari keluar menembus dinginnya malam Kota Tua.

Napasnya memburu, parau, dan berbau kepanikan. Setiap kali kakinya menghantam genangan air di trotoar, kilatan memori kebun bunga matahari itu memutar ulang di kepalanya: tawa Shena kecil, kehangatan sengatan matahari, bau tanah basah... Semua hal yang selama dua hari ini terasa puitis dan menyembuhkan, kini berubah menjadi jelaga yang menjijikkan.

Ia telah mencuri tameng milik seorang anak yatim piatu. Demi menyelamatkan dirinya dari kecelakaan lalu lintas tiga tahun lalu, ia membiarkan seorang wanita kembali terbakar oleh trauma masa kecilnya.

Ponsel di saku jaket Reno bergetar liar. Bukan satu getaran biasa, melainkan panggilan telepon berulang kali.

Reno menghentikan langkahnya di bawah lampu jalan yang temaram, merogoh ponsel dengan tangan yang gemetar hebat. Nama Shena berkedip-kedip di layar.

Lihat selengkapnya