Taksi berhenti mendadak di tepi Jalan Tebet Barat. Reno melempar beberapa lembar uang kertas ke pangkuan sopir tanpa menunggu kembalian, lalu melompat keluar menerobos sisa-sisa gerimis yang membasahi trotoar.
Toko bunga milik Shena—sebuah bangunan dua lantai dengan plang kayu bertuliskan Freesia & Co.—tampak remang. Pintu kaca depannya sedikit terbuka. Dari luar, tidak ada tanda-tanda kebakaran atau kepulan asap, tetapi dari dalam ruangan, suara histeris Shena terdengar memecah keheningan malam.
"Shena!" Reno mendorong pintu kaca itu hingga bel perunggu di atasnya berdenting liar.
Pemandangan di dalam toko membuat dada Reno teremas. Beberapa pot bunga terbalik di atas lantai ubin, kelopak-kelopak mawar dan krisan berserakan bersama tanah basah dan pecahan keramik. Di sudut ruangan, di antara ceceran batang bunga, Shena meringkuk rapat ke dinding.
Kedua tangannya mencengkeram kepalanya sendiri, matanya terpejam rapat, sementara napasnya memburu cepat dan dangkal. Pelipis dan lehernya dibasahi keringat dingin.
"Panas... tolong... pintu rumahnya terkunci..." racau Shena, suaranya parau oleh histeria yang meluap. "Kakek... asapnya terlalu tebal..."
Reno berlutut di depan Shena, mengabaikan pecahan pot yang menggores lutut celananya. "Shena! Ini saya, Reno. Buka matamu, Shena. Tidak ada api di sini. Tidak ada asap."
Reno meraih kedua pergelangan tangan Shena yang gemetar hebat, mencoba menariknya dari kepala perempuan itu.