Fajar menyingsing dengan warna abu-abu keperakan di atas atap Tebet. Bau tanah basah dan kelopak bunga yang membusuk karena terinjak-injak memenuhi sudut lantai Freesia & Co.
Shena tertidur di sofa kecil di ruang belakang toko, berselimut mantel milik Reno. Wajahnya yang pucat kini berangsur tenang, meski sisa-sisa jejak air mata masih mengering di sekitar kelopak matanya. Reno melangkah pelan tanpa suara, merapikan letak mantel di bahu Shena, lalu keluar mengunci pintu toko dari luar dan meninggalkan kunci serep di bawah pot mawar dekat pintu.
Di dalam dadanya, kehangatan memori kebun bunga matahari itu berdenyut ritmis—menawarkan kedamaian palsu yang kian hari kian terasa seperti candu beracun.
Pukul delapan pagi, Reno tiba di studionya di Kota Tua.
Di depan pintu kaca yang masih terkunci, dua kardus cokelat berukuran besar sudah menumpuk di atas lantai ubin. Seorang petugas kurir berjaket hijau menyodorkan papan klip digital untuk tanda terima.
"Pak Reno, ya? Kiriman dari Apartemen Park View," ujar petugas itu singkat.
Reno mengangguk, menandatangani layar ponsel kurir dengan jemari kaku, lalu mengangkut kedua kardus itu masuk ke dalam studio.
Denting lonceng pintu terdengar sumbang. Ruangan itu terasa asing, seolah-olah bau aroma vanila yang biasa dibawa Nara telah menguap sepenuhnya, digantikan oleh aroma kertas kardus kering dan debu.