Siang itu, matahari pukul dua merayap masuk lewat celah kaca studio Kota Tua, memproyeksikan garis-garis pendar cahaya ke atas meja kayu. Di tengah meja, bingkai kayu jati cokelat gelap membungkus foto ukuran delapan belas inci yang telah utuh kembali.
Wajah Kakek Shena tersenyum hangat di antara hamparan warna kuning bunga matahari. Gubuk kayu di sudut kanan bawah tampak presisi dengan aksen cat hijau mengelupas yang tampak nyata. Noda jamur dan retakan lembap belasan tahun itu hilang tanpa menyisakan bekas, dipulihkan oleh ketelitian jemari Reno—dan oleh ingatan yang ia curi.
Denting bel kaca berbunyi tepat waktu.
Shena melangkah masuk. Ia mengenakan gaun kain katun putih dengan rajut cokelat di luarnya. Tampak sedikit lelah di sekitar kelopak matanya, tetapi garis wajahnya jauh lebih tenang dibandingkan saat ia histeris di lantai tokonya tadi malam.
"Mas Reno," sapa Shena pelan, menghentikan langkahnya beberapa jengkal dari meja kasir.
Reno berdiri di balik meja, tangannya mengusap perlahan bingkai kayu itu sebelum menggesernya ke arah Shena. "Foto kamu sudah selesai, Shena. Semua detailnya sudah dikembalikan."
Shena mendekat. Jemarinya yang ramping dan bersih terulur ragu-garis, meraba permukaan kaca bening yang melapisi foto itu.
Detik ketika ujung jarinya menyentuh bingkai, mata Shena terpejam seketika.
Sebuah emosi merayap cepat dari foto itu ke dalam tubuhnya. Bukan lagi ingatan kebakaran atau bau asap yang mencekik, melainkan rasa hangat yang sangat akrab—rasa aman yang dulu selalu diberikan oleh kakeknya. Air mata menetes pelan dari sudut mata Shena yang terpejam, melintasi pipinya yang halus.
"Ini..." Shena membuka matanya, menatap foto itu dengan binar haru. "Ini terasa sangat utuh, Mas. Seperti kakek sedang berdiri di depan saya lagi."
"Baguslah kalau kamu menyukainya," bisik Reno. Suaranya datar, mencoba menyembunyikan getaran sesak di dadanya.