Keheningan di studio terasa makin menghimpit. Tangan Shena masih melingkar kaku di bahu Reno, sementara napas mereka terengah dalam ritme yang sama.
"Ini bukan kesembuhan, Shena," bisik Reno, akhirnya menarik tubuhnya mundur satu langkah.
Seketika, kontak fisik itu terputus.
Hawa dingin seperti silet tipis langsung menyayat dada Reno. Desir cemas dan residu panic attack bergetar kembali di saraf otaknya. Di saat bersamaan, Shena mengerang pelan, mencengkeram keningnya seraya melangkah mundur beberapa tindak. Rona merah di pipinya mendadak surut, digantikan oleh selapis warna pucat yang rapuh.
"Kenapa... kenapa kepala saya mendadak berat lagi?" ringis Shena, matanya menatap Reno dengan ketakutan yang murni. "Mas Reno... apa yang sebenarnya terjadi pada kita?"
Reno menatap telapak tangannya yang gemetar. Ia ingin memeluk Shena, ingin menyentuh pergelangan tangannya agar rasa sakit wanita itu hilang, tetapi akal sehatnya berteriak menahan. Mengulurkan tangan berarti memperdalam dosa. Semakin sering ia menutupi rasa sakit Shena dengan sentuhannya, semakin terbiasa tubuh mereka dengan zat adiktif penukaran ingatan itu.
"Ada tempat yang pernah didatangi kakekmu dulu," kata Reno pelan, suaranya parau. Ia memilih untuk tidak lagi menutupi jejak Toko Kamera & Kamar Gelap Merah, meski ia belum sanggup mengakui bahwa dialah pencuri ingatan itu.