Angin malam Kota Tua membawa aroma laut dangkal dan kayu lapuk yang membusuk perlahan. Pukul sebelas lewat sepuluh menit, gang narrow itu tampak bagai rongga gelap yang menelan sisa-sisa cahaya lampu jalan.
Langkah kaki Reno dan Shena terdengar ganjil—ritmis, berdampingan, tetapi dibayangi jeda kecanggok yang berat.
"Mas Reno," suara Shena memecah gesekan telapak sepatu mereka di atas paving basah. Tangannya meremas tali tas kulitnya sendiri. "Sejak masuk gang ini... dada saya rasanya tertekan. Seperti makin dekat ke sumur tua tempat barang saya pernah jatuh."
Reno tak langsung menjawab. Tangannya di dalam saku jaket mengepal erat hingga kuku-kukunya menekan telapak tangan. "Toko itu ada di ujung belokan ini, Shena."
Mereka berhenti tepat di hadapan papan kayu yang berayun pelan.
"Toko Kamera & Kamar Gelap Merah"
Shena mematung. Matanya menatap plang tua itu tanpa berkedip. Cahaya temaram dari bohlam berkedip di atas pintu memantul di pupil matanya yang bergetar. Memori masa kecilnya tidak muncul sebagai gambar yang utuh, melainkan sebagai sensasi fisik yang mencekik: bau asam cairan developer, dengung mesin pendingin tua, dan denyut lampu merah yang membakar kegelapan.
Reno mendorong pintu kayu itu. Denting lonceng perunggu menyuarakan nada tunggal yang dingin.
Di balik meja kasir, pria paruh baya berambut perak itu tidak sedang memotong kertas atau mengelap lensa. Ia berdiri tegak, menyandarkan kedua telapak tangannya di atas permukaan meja kayu, seolah-olah telah menanti kedatangan dua jiwa yang saling terikat ini sejak awal.
Lampu gantung merah di atas meja menyala pekat, memproyeksikan bayangan mereka menjadi tiga siluet kaku di dinding kayu.
"Kamu membawa pemilik sahnya kembali, Reno," suara pria itu berat, bergetar rendah di udara lembap ruangan. "Cepat dari yang kubayangkan."