Lantai kayu toko terasa bagai pijakan besi panas. Di bawah pendar lampu merah yang berkedip samar, udara mengental oleh rasa sakit yang membelenggu dua tubuh di atasnya.
Shena memegangi lehernya, matanya melotot menatap langit-langit dengan napas terputus-putus. Trauma kebakaran itu menghisap oksigen dari paru-parunya, menghadirkan ilusi lidah api yang membakar kulitnya. Di sebelahnya, Reno meringkuk, mencengkeram pelipisnya sendiri saat gema dentuman besi tua kecelakaan lalu lintas meraung-raung di dalam gendang telinganya.
Aku harus menahannya, batin Reno di tengah siksaan yang merobek kesadarannya.
Reno merayap. Setiap senti pergerakan jemarinya di atas kayu terasa seperti menyeret beban berkuintal-kuintal. Shena membencinya, Shena takut padanya, tetapi melihat perempuan itu sekarat dalam ilusi api yang dipicu oleh kesalahannya sendiri adalah siksaan yang jauh lebih mengerikan daripada rasa sakitnya sendiri.
"Shena..." panggil Reno parau.
Ia mengulurkan tangan, meraih pergelangan tangan Shena yang kaku.