Kata-kata sang penjaga toko menggantung di udara bagai vonis eksekusi. Lampu merah di atas kepala mereka berkedip sekali, memancarkan bayangan panjang yang gemetar di dinding kayu.
"Melupakan semuanya?" bisik Reno. Suaranya serak, nyaris tak sanggup menembus hening yang mencekik.
"Seluruhnya," tegas pria paruh baya berambut perak itu tanpa emosi. "Setiap detak kehidupan yang pernah kamu bangun. Namamu, keahlian tanganmu memoles foto, kenangan manis masa kecilmu, hingga jejak wajah perempuan yang kemarin meninggalkan kardus-kardusmu di studio. Semua itu akan dilebur untuk mengisi kembali rongga kebahagiaan yang kamu curi dari Shena."
Shena tersentak. Genggaman tangannya pada lengan Reno mendadak melonggar, meski ia tidak sepenuhnya melepaskan jemari pria itu karena rasa takut akan serangan trauma yang mengintai di batas kesadarannya.
"Tidak..." Shena menggeleng gelisah, menatap sang penjaga toko lalu beralih menatap profil wajah Reno dari samping. "Ini gila! Mas Reno memang bersalah, tapi menukar seluruh hidupnya sampai dia lupa siapa dirinya sendiri... itu bukan keadilan!"