Pria paruh baya berambut perak itu tidak membuang waktu. Ia memutar kunci kuningan pada pintu kecil di belakang meja kasir. Bau cairan fixer dan asam yang tajam mendadak menyeruak, menyelimuti ruangan dengan hawa dingin yang meremangkan bulu kuduk.
"Masuklah," perintah penjaga toko, menunjuk ke dalam kamar gelap yang memancarkan pendar merah pekat. "Proses pembersihan tidak bisa dilakukan di luar."
Shena memegang lengan Reno, jarinya meremas kain jaket pria itu hingga kusut. "Mas Reno... tolong pikirkan lagi. Ini tidak benar. Mas tidak harus kehilangan seluruh hidup Mas cuma untuk bayar kesalahan ini!"
Reno menoleh, menatap Shena dengan seulas senyum tipis—senyum pertama yang terasa jujur dan pasrah. Ia melepaskan genggaman tangan Shena secara perlahan, menyisakan kehangatan yang memudar di antara jemari mereka.
"Ini bukan cuma soal membayar utang, Shena," bisik Reno pelan. "Ini soal mengembalikan hal yang seharusnya tidak pernah tersentuh oleh ketamakan saya. Kamu berhak atas senyummu sendiri."
"Tapi Mas akan melupakan segalanya!" pangkas Shena, air matanya tak lagi bisa ditahan, meluncur merintik di atas gaun katun putihnya. "Mas tidak akan ingat nama Mas sendiri... Mas tidak akan ingat studio foto itu, atau Mbak Nara..."