Tirai kain hitam tebal itu tersingkap pelan.
Reno melangkah keluar dari kamar gelap dengan pijakan kaki yang mengambang, seolah-olah ia baru saja belajar berjalan di atas permukaan bumi. Pendar merah dari lampu gantung memantul di manik matanya yang bening—begitu bersih, jernih, namun sepenuhnya hampa. Tidak ada lagi sisa-sisa beban kecelakaan lalu lintas, tidak ada lagi kilat ketakutan, dan tak ada lagi bayangan rasa bersalah yang selama bertahun-tahun mengendap di balik tatapannya.
Ia berhenti di ambang pintu, menatap telapak tangannya sendiri dengan dahi berkerut tipis, seolah sedang mengamati objek asing yang baru pertama kali ia lihat.
Shena menahan napas. Langkah kakinya gemetar saat mendekati Reno. "Mas... Reno?"
Reno mendongak. Pandangannya beradu dengan mata Shena yang basah oleh air mata. Namun, tidak ada pendar pengenalan di sana. Tatapan pria itu datar, sopan, tetapi berjarak sempurna—seperti tatapan dua orang asing yang tidak sengaja berpapasan di dalam gerbong kereta yang padat.
"Maaf..." suara Reno terdengar sangat asing di telinganya sendiri, bersahaja dan tanpa beban. "Anda... memanggil saya?"
Isakan pecah di kerongkongan Shena. Ia meremas ujung gaunnya kencang-kencang, merasakan dorongan kebas yang menyakitkan di dalam dadanya.