Sinar matahari pagi menembus kaca depan studio, membiaskan garis-garis debu emas yang melayang samar di atas meja kerja. Reno duduk tegak di depan monitor 27 inci yang menyala terang. Di hadapannya, sebuah klise tua milik klien lama tergelap di atas layar, penuh garis retakan dan noda jamur yang kusam.
Pikirannya kosong dari riwayat hidup, tetapi tangannya bekerja dengan keajaiban yang ganjil.
Jemari Reno bergerak lincah di atas papan drawing tablet. Tanpa perlu melihat tombol papan ketik, jarinya menekan kombinasi shortcut secara instan—memperbesar piksel, mengatur kontras, dan memoles retakan mikro dengan sapuan brush yang sangat presisi. Otaknya tidak bisa mengingat siapa yang mengajarinya teknik tersebut, tetapi otot-otot tangannya menyimpan ingatan belasan tahun yang tak mampu dihapus oleh kamera tua di kamar gelap.
Denting bel kaca berbunyi pelan.
Shena melangkah masuk membawa kantong kertas berisi dua cangkir kopi hangat dan roti bakar. Ia menghentikan langkahnya di dekat rak, terpaku menatap punggung Reno yang tampak begitu fokus di depan layar monitor.
"Kamu... sudah bisa mengoperasikannya?" bisik Shena pelan, meletakkan kantong kertas ke meja kasir.
Reno memutar kursinya perlahan, menatap Shena dengan mata jernih tanpa beban. "Saya tidak tahu alasannya, tapi begitu saya memegang pena ini, tangan saya langsung tahu harus bergerak ke mana. Seperti refleks bernapas."