Kamar Gelap Merah

kholid alamsyah
Chapter #28

Kanvas Bahasa Hujan

Hujan deras mengguyur Kota Tua sejak selepas zuhur. Suara deburan air yang menabrak genteng tanah liat studio beradu dengan ritme dengung mesin pencetak foto berukuran besar di sudut ruangan. Aroma kertas glossy basah, tinta cetak, dan uap teh krisan hangat bersatu, menciptakan keheningan yang tenang di dalam ruangan berdinding bata terekspos itu.

Reno berdiri di depan papan gabus berukuran dua meter yang terpasang di dinding barat studio. Jemarinya memegang beberapa pin besi kecil, menempelkan lembaran-lembaran foto hasil bidikannya dalam beberapa hari terakhir.

Foto-foto itu bukan lagi gambaran kusam dari lembaran sejarah milik orang asing. Di sana, tertempel ceceran warna kehidupan yang meluap-luap: bayangan refleksi puddle air hujan di ubin batu Kota Tua, garis jemari seorang pengrajin kayu tua yang penuh urat, tawa anak-anak kecil yang melompati genangan air, hingga siluet Shena yang berdiri di antara deretan krisan kuning dengan latar matahari terbenam.

"Masih ada ruang kosong di sudut kanan bawah," suara Shena memecah kesunyian, melangkah mendekat seraya meletakkan secangkir teh krisan hangat di atas meja kayu.

Reno menoleh, menyunggingkan senyum tipis yang melengkung alami. "Ruang kosong itu sengaja disisakan. Kalau semua dinding ini dipenuhi gambar, kita tidak punya tempat lagi untuk bernapas."

Shena memperhatikan jajaran foto tersebut. Ada perubahan yang sangat mencolok pada setiap sudut gambar yang dihasilkan Reno. Dulu, sebelum seluruh memorinya tersedot habis oleh kamera tua di kamar gelap, setiap hasil restorasi atau foto buatan Reno selalu dibayangi oleh sudut-sudut gelap yang pekat—seolah-olah ada selapis kabut duka yang sengaja ditaruh di sana. Namun kini, seluruh foto di dinding itu memancarkan cahaya murni. Bahkan warna hitam pada bayangan bangunan tua di dalam fotonya terasa hangat, bukan mencekik.

"Bagaimana rasanya?" tanya Shena pelan, menyandarkan bahunya pada tepi meja kerja.

Lihat selengkapnya