Dua minggu berlalu sejak hujan deras sore itu. Studio foto di sudut Kota Tua itu kini mulai bernapas dengan warna baru. Lembaran foto street photography milik Reno yang dipajang di jendela kaca depan menarik perhatian para pejalan kaki dan wisatawan lokal. Reno tak lagi hanya dikenal sebagai tukang restorasi foto-foto usang; ia mulai dikenal sebagai potretis yang mampu menangkap kejujuran ekspresi manusia.
Sore itu, pukul tiga lewat sedikit, bel perunggu di atas pintu studio berdenting nyaring.
Reno yang sedang membersihkan lensa kamera di balik meja kasir mendongak. "Selamat sore, selamat datang di—"
Kalimat Reno terhenti.
Seorang wanita bergaun kain linen warna krem dengan selendang biru tua melangkah masuk. Rambutnya yang sebahu diikat rapi di belakang kepala. Langkah kakinya sempat ragu-ragu di ambang pintu, matanya yang tegas memindai seluruh sudut studio dengan tatapan yang sarat akan kenangan, kerinduan, dan rasa sakit yang mendalam.
Nara.
Shena yang saat itu sedang merapikan pot bunga kecil di meja tamu mendadak membeku. Jantungnya berdegup kencang, tangannya mencengkeram tepi meja kayu. Nara telah kembali—perempuan yang selama tiga tahun menemani Reno menyeberangi masa-masa tergelapnya, perempuan yang pergi meninggalkan kardus-kardus kenangan karena tak sanggup lagi bersaing dengan bayangan kamar gelap.
Nara menatap Shena sekilas, memberikan anggukan kepala yang sangat tipis dan dingin, lalu mengalihkan pandangannya sepenuhnya kepada Reno.
Reno berdiri dari kursinya. Ia menatap wanita di hadapannya dengan sopan. Tidak ada getaran ketakutan di matanya, tidak ada rasa bersalah yang mencekik, dan tidak ada air mata yang mendesak keluar. Tatapan Reno kepada Nara benar-benar sama seperti tatapannya kepada Pak Jarwo atau para wisatawan yang singgah di studionya.
"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya Reno dengan suara bersahaja dan ramah.
Nara mematung di tengah ruangan.
Suara itu... nada bicara itu... begitu asing. Nara sudah bersiap untuk menghadapi berbagai kemungkinan saat ia memutuskan untuk melangkah kembali ke studio ini: ia siap jika Reno memohon maaf, ia siap jika Reno marah padanya karena telah mengembalikan semua barangnya, atau bahkan ia siap jika melihat Reno masih histeris dalam bayang-bayang kecelakaan lalu lintas itu.