Bulan berganti, dan angin musim kemarau mulai berembus dingin di sepanjang pesisir utara Jakarta. Kota Tua tampak kemerahan di bawah naungan langit sore pukul lima.
Di atap gedung studio foto, Reno dan Shena berdiri bersandar pada pagar besi tua yang agak berkarat. Dari ketinggian lantai tiga itu, lanskap atap-atap genteng merah Kota Tua, menara museum, dan lalu lalang kendaraan di bawah tampak seperti diorama bernapas.
Sebuah kamera rangefinder tergantung di leher Reno. Di sampingnya, Shena memegang sebuket kecil bunga freesia kuning yang baru disiram, mengibaskan sisa-sisa air di tangannya.
"Saya dapat surat dari seorang klien pagi tadi," cerita Reno, memecah keheningan di antara mereka. Matanya menatap awan jingga yang membentang di ufuk barat.
"Soal foto apa?" tanya Shena seraya menoleh.
"Foto keluarga tua yang pernah saya perbaiki minggu lalu. Dia bilang, setelah melihat fotonya utuh kembali, ibunya yang sudah pikun mendadak ingat lagu nina bobo yang dulu sering dinyanyikan almarhum ayahnya." Reno tersenyum, menatap telapak tangannya sendiri. "Aneh, ya? Saya sendiri tidak punya memori masa kecil, tapi tangan saya bisa bantu orang lain menemukan kembali kenangan mereka."
Shena menatap profil wajah Reno dari samping. Angin sore memainkan helai-helai rambut perak tipis di pelipis pria itu.