Kamar Gelap Merah

kholid alamsyah
Chapter #31

Pameran Tanpa Judul

Dua bulan berlalu sejak hari ketika Nara meletakkan kunci studio di atas meja kasir dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Musim penghujan kembali mengetuk Kota Tua, membawa embun dingin yang melekat di permukaan kaca-kaca jendela studio setiap pagi.

Namun, di dalam bangunan berdinding bata itu, tidak ada lagi hawa ketakutan yang mengendap.

Studio foto yang dulunya pengap oleh aroma cairan developer kusam dan debu-debu foto tua kini telah bersolek sepenuhnya. Dinding sebelah timur diisi oleh panel-panel kayu pinus minimalis, menjadi tempat tergantungnya tiga puluh dua lembar foto hasil bidikan Reno selama dua bulan terakhir.

Hari ini adalah hari pertama pameran foto tunggalnya yang pertama. Pameran yang tidak diberi judul apa pun di lembar brosurnya—hanya selembar papan kayu kecil di depan pintu bertuliskan: Eksistensi yang Tersisa.

Lonceng perunggu di atas pintu masuk tak berhenti berdenting sejak pukul dua siang. Para pengunjung—terdiri dari kolektor seni lokal, wisatawan, mahasiswa fotografi, hingga tetangga sekitar Kota Tua—melangkah pelan di antara lorong-lorong pameran.

Shena berjalan anggun di antara kerumunan dengan gaun rajut warna krem halus. Di tangannya, ada nampan kecil berisi gelas-gelas kaca berisi teh herbal hangat yang membagikan aroma serai dan kayu manis ke udara. Setiap kali ia melihat mata para pengunjung terpaku di hadapan karya-karya Reno, ada pendar kebanggaan yang mekar murni di dadanya.

Di sudut ruangan, seorang kurator seni senior berkacamata bulat sedang mengamati sebuah foto berukuran paling besar. Foto itu memperlihatkan refleksi genangan air hujan di trotoar ubin Kota Tua, tempat sebuah bayangan lampu jalan tua beradu dengan pantulan senyum seorang wanita yang memegang buket krisan kuning.

"Sungguh pencahayaan yang ajaib," ujar kurator itu, berbalik saat melihat Reno melangkah mendekat. "Foto-foto Anda... tidak punya nostalgia yang dibuat-buat, Mas Reno. Biasanya, fotografer yang mencoba menangkap Kota Tua selalu terjebak dalam romantisme masa lalu yang klise dan melankolis. Tapi foto-foto Anda berbeda."

Reno tersenyum tipis, merapikan kerah kemeja linen hitamnya. "Berbeda di bagian mananya, Pak?"

Lihat selengkapnya