Kamar Gelap Merah

kholid alamsyah
Chapter #35

Pagi yang Tak Lagi Menagih

Lampu safelight merah di dalam kamar gelap baru di belakang studio menyala temaram. Bau cairan developer dan fixer kimiawi tercium tajam di udara, namun tidak ada aura mencekik atau atmosfer ghaib seperti di gang sempit Kota Tua masa lalu. Ini hanyalah ruang kerja seorang seniman yang sedang mengolah lembaran karya.

Reno berdiri di depan bak porselen berisi cairan pengembang, menggunakan penjepit kayu untuk memutar-mutar lembaran kertas foto yang baru direndam. Shena berdiri rapat di sampingnya, memegang lengan kemeja Reno dengan napas tertahan oleh rasa penasaran yang membuncah.

Perlahan, di atas permukaan kertas putih polos di dalam cairan bening itu, bayangan keperakan mulai muncul.

Garis-garis bentuk perlahan mengental, membentuk sebuah potret yang sangat jernih.

Di dalam foto itu, tampak sosok Shena sewaktu masih berusia lima tahun, duduk di atas pundak kakeknya di tengah ladang bunga matahari. Sang kakek menengadah menatap Shena kecil dengan tawa lepas yang begitu tulus, sementara tangan kecil Shena terulur ke arah kamera, menggenggam sekelopak bunga matahari yang mekar sempurna.

Di sudut bawah foto tua itu, tertulis goresan tinta pena hitam buatan tangan sang kakek:

“Untuk Shena, kebahagiaanmu adalah milikmu sendiri. Jangan pernah biarkan siapa pun merampas senyum ini dari mukamu.”

Shena memekik pelan, menutup mulutnya dengan kedua belah tangan saat air mata keharuan tak lagi terbendung merembes membasahi pipinya. Gambar itu bukan gambar kenangan buatan, bukan kebahagiaan curian dari trauma orang lain. Itu adalah warisan cinta murni dari kakeknya—sebuah pesan yang akhirnya sampai ke tangan pemilik sahnya setelah mengarungi lorong waktu yang panjang dan berdarah.

Lihat selengkapnya