Kamar Gelap Merah

kholid alamsyah
Chapter #36

Lanskap yang Utuh (Epilog)

Satu tahun berlalu sejak papan nama jati itu terpasang di depan studio. Musim berganti dengan anggun di Kota Tua, membawa kemarau yang hangat dan hujan yang membasuh debu-debu jalanan. Namun, di dalam bangunan berdinding bata itu, waktu tidak lagi terasa seperti ancaman yang menagih utang—ia mengalir tenang seperti sungai yang akhirnya menemukan muaranya di laut lepas.

Pagi itu, alun-alun Kota Tua disiram pendar matahari keemasan yang sangat bersih. Suara roda sepeda ontel yang bergesekan dengan batu ubin trotoar beradu harmonis dengan kicau burung gereja di dahan pohon beringin.

Di lantai dua studio, di sebuah ruangan beratap kaca tempat cahaya alami membanjiri seluruh sudut, Reno berdiri di balik kamera format lebar berpenyangga kayu jati. Di lehernya, kamera rangefinder tua kesayangannya tetap tergantung, mengkilap oleh gesekan jemarinya setiap hari.

Di hadapannya, sepasang suami istri lansia duduk berdampingan di sofa kayu. Sang suami merangkul bahu istrinya dengan kehangatan yang telah teruji oleh waktu, sementara sang istri memegang seikat bunga krisan putih kecil.

"Tahan napas sedikit ya, Pak, Bu... tersenyum santai saja, seperti saat pertama kali bertemu dulu," panggil Reno dengan nada suara yang hangat, matanya mengintip dari balik visir kamera.

Shena berdiri di dekat sudut ruangan, memegang reflector cahaya. Ia memperhatikan jemari Reno yang menyesuaikan fokus lensa. Tidak ada kecanggungan, tidak ada kebingungan, dan tidak ada lagi kilatan cemas di wajah pria itu. Setiap gerakan tangan Reno memancarkan ketenangan seorang manusia yang telah berdamai utuh dengan semestanya.

Cklek.

Rana shutter berbunyi nyaring, disusul suara napas lega dari pasangan tua di depan mereka.

"Wah, cepat sekali ya, Mas Reno," puji sang suami seraya berdiri dan menjabat tangan Reno dengan erat. "Dulu sewaktu kami foto pernikahan lima puluh tahun lalu, tukang fotonya butuh waktu setengah jam cuma buat membidik wajah kami."

Reno tertawa renyah—sebuah tawa lepas yang kini menjadi suara paling akrab di studio itu. "Zaman sekarang semuanya harus berjalan lebih cepat, Pak. Tapi kehangatan di mata Bapak dan Ibu... itu hal yang tidak pernah berubah dari zaman dulu."

Lihat selengkapnya