Langit Jakarta sore itu berwarna jingga pucat. Awan-awan tipis bergerak pelan, seolah enggan meninggalkan cahaya terakhir sebelum malam datang. Dari balik jendela Kamar Nomor Tiga, Nazula memandanginya tanpa berkedip. Pantulan warna senja jatuh di wajahnya yang tenang, tetapi hatinya tidak setenang itu.
Angin tipis masuk melalui celah ventilasi. Membawa suara kendaraan dari kejauhan, juga suara langkah santriwati yang lalu-lalang di halaman asrama putri Pesantren Darunnajah. Ramadhan tinggal dua hari lagi. Biasanya, pada waktu seperti ini, ia sudah berada di rumah. Membantu ibu menjemur mukena. Mengaduk sirup di dapur. Mendengar ayah memeriksa jadwal tarawih di masjid dekat rumah.
Namun tahun ini berbeda.
Tahun ini ia memilih tinggal.
Keputusan itu terdengar sederhana saat diucapkan, tetapi terasa berat saat dijalani.
Zula menyandarkan dahinya ke kaca jendela. Dingin. Ia menghela napas panjang. Bayangan semalam kembali muncul. Telepon dari ibunya. Suara yang terdengar lebih pelan dari biasanya.
“Jadi kamu benar-benar tidak pulang, Nak?” suara itu lembut, tetapi menyimpan jeda yang panjang.
Zula waktu itu menggenggam ponsel dengan tangan gemetar. “Iya, Bu. Zula mau coba Ramadhan di sini.”
Hening di seberang sana. Ia bisa membayangkan ibunya duduk di kursi ruang tamu, menatap foto keluarga yang tergantung di dinding.
“Rumah pasti sepi,” ibunya berkata pelan. “Dapur juga.”
Kalimat itu yang membuat dadanya sesak sampai sekarang.
Zula memejamkan mata. Ia tidak ingin terlihat lemah, bahkan di hadapan dirinya sendiri. Keputusan itu sudah diambil. Ia ingin belajar. Ingin merasakan bagaimana rasanya beribadah penuh di pesantren. Tanpa jeda. Tanpa dimanja suasana rumah.
Ia ingin belajar ikhlas.
Tapi ternyata belajar ikhlas tidak semudah membalik halaman buku.
Suara pintu kamar terbuka membuatnya menoleh. Nabila masuk sambil membawa beberapa buku yang baru saja diambil dari perpustakaan kecil asrama.
“Kamu masih di situ?” tanyanya ringan.
Zula mengangguk kecil. “Lihat langit.”
Nabila mendekat, ikut menatap ke luar. “Biasa saja.”
“Enggak,” Zula menggeleng pelan. “Hari ini beda.”
“Bedanya di mana?”
“Di hati.”
Nabila menatapnya sekilas, lalu tersenyum tipis. Ia tahu maksud itu tanpa perlu penjelasan panjang.
Beberapa santriwati lain terdengar bercanda di lorong. Aroma sabun cuci dan pakaian yang baru dijemur bercampur dengan wangi tanah sore. Semuanya terasa hidup. Namun di dalam diri Zula, ada ruang yang kosong.
“Telepon Ibu lagi?” tanya Nabila hati-hati.
Zula menggeleng. “Takut.”
“Takut apa?”
“Takut berubah pikiran.”
Nabila terdiam. Ia meletakkan bukunya di meja kecil. “Kamu menyesal?”
Pertanyaan itu menggantung.
Zula tidak langsung menjawab. Ia kembali menatap langit yang kini mulai gelap. Lampu-lampu halaman menyala satu per satu.
“Enggak menyesal,” katanya akhirnya. “Cuma… kangen.”
Kata itu keluar seperti bisikan yang nyaris tak terdengar.
Sejak pertama kali masuk pesantren, Zula selalu pulang setiap Ramadhan. Ibunya akan datang menjemput, membawa tas besar berisi camilan dan pakaian bersih. Mereka akan tertawa sepanjang perjalanan pulang. Seolah bulan suci adalah waktu untuk kembali menjadi anak kecil.
Tapi tahun ini, ia ingin berbeda.
Ia merasa sudah cukup dewasa untuk tidak selalu bergantung pada rumah. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri sendiri. Bahwa rindu bukan alasan untuk menyerah.
Namun sore itu, ketika senja benar-benar menghilang dan langit berubah kelam, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri: apakah ini tentang kemandirian, atau hanya tentang gengsi?
Ia berdiri dari tempatnya dan mengambil wudu. Air yang menyentuh wajahnya terasa menenangkan. Seolah membasuh keraguan yang sejak tadi menempel.
Di lorong asrama, beberapa santriwati sudah duduk membaca Al-Qur’an. Suara lantunan ayat terdengar pelan dan berirama. Zula ikut duduk, membuka mushafnya, mencoba fokus pada huruf-huruf yang tertata rapi.
Tetapi pikirannya kembali melayang.
Ia membayangkan ibunya di dapur. Memotong bawang. Menyiapkan menu sahur pertama. Tanpa dirinya.
Dadanya kembali terasa berat.
Ia menutup mushaf sejenak. Menarik napas panjang.
“Ya Allah,” bisiknya dalam hati, “kalau ini jalan yang harus aku pilih, kuatkan.”
Malam turun sepenuhnya.