Kamar Nomor Tiga

Idi Darusman
Chapter #2

2- Kamar Nomor Tiga

Langit Jakarta sore itu tampak pucat. Awan-awan tipis bergerak pelan, seolah ikut menahan napas menunggu datangnya bulan Ramadhan. Dari balik jendela kamar asrama, Nazula berdiri diam sambil menatap ke arah langit yang mulai berubah warna.

Angin lembut menyelinap melalui celah jendela. Membawa suara langkah para santri yang lalu lalang di lorong asrama putri. Beberapa dari mereka tertawa kecil. Sebagian lain membawa buku, mukena, atau sekadar berjalan sambil bercakap ringan.

Namun Zula tidak ikut bersama mereka.

Tangannya menggenggam selembar surat yang sudah beberapa kali ia baca sejak pagi tadi. Kertas itu mulai sedikit kusut di bagian ujungnya. Ia membuka kembali lipatan surat itu dengan hati yang terasa berat.

Tulisan tangan ibunya terlihat rapi dan hangat, seperti biasanya.

Zula membaca perlahan.

Dapur rumah terasa berbeda tanpa dirinya. Ibunya menulis bahwa bulan Ramadhan tahun ini mungkin akan terasa lebih sepi. Tidak ada lagi suara Zula yang biasanya membantu menyiapkan takjil, memotong buah, atau mengaduk kolak di atas kompor.

Kalimat itu membuat dada Zula terasa sesak.

Ia menutup surat itu sebentar, lalu menghela napas panjang.

Ingatan tentang rumah tiba-tiba datang begitu jelas. Ia membayangkan dapur kecil mereka yang selalu hangat setiap sore Ramadhan. Aroma gula merah, santan, dan daun pandan yang mengepul dari panci besar.

Biasanya Zula berdiri di samping ibunya sambil memasak kolak.

Ibunya sering tertawa melihat wajahnya yang kepanasan di dekat kompor.

Kenangan itu membuat sudut mata Zula terasa panas.

Namun ia segera mengusapnya.

Tahun ini berbeda.

Tahun ini ia memilih tinggal di pesantren selama Ramadhan.

Keputusan itu bukan tanpa keraguan. Ia tahu ibunya pasti merasa kehilangan. Tetapi Zula juga tahu, ada sesuatu yang ingin ia pelajari dari hidup jauh dari rumah.

Ia ingin belajar mandiri.

Ia ingin belajar memahami dirinya sendiri.

Ia ingin tahu seperti apa Ramadhan di tempat yang penuh dengan doa.

Zula kembali menatap langit. Warna jingga mulai muncul di ufuk barat.

Dari kejauhan terdengar suara santri yang sedang membersihkan halaman. Sapu lidi bergesekan dengan lantai semen, menciptakan suara ritmis yang anehnya terasa menenangkan.

Lorong asrama semakin ramai.

Beberapa santri berjalan cepat sambil membawa ember. Sebagian lain memanggil temannya dari ujung koridor.

Zula memperhatikan semuanya dari balik jendela.

Ada rasa asing yang masih mengendap di hatinya.

Pesantren ini begitu besar dibandingkan rumahnya. Bangunannya bertingkat. Halamannya luas. Santri yang tinggal di dalamnya begitu banyak.

Kadang-kadang Zula merasa seperti butiran kecil di tengah lautan manusia.

Tiba-tiba terdengar suara langkah mendekat ke kamar.

Pintu kayu yang setengah terbuka itu didorong perlahan.

Seorang gadis berwajah cerah muncul di ambang pintu. Rambutnya tertutup rapi oleh jilbab abu-abu.

Ia tersenyum melihat Zula.

“Zula, kamu dari tadi di sini?”

Zula menoleh. Ia mengenal gadis itu. Namanya Mira. Mereka satu kamar sejak awal masuk pesantren.

Zula tersenyum kecil.

“Iya. Lagi lihat langit saja.”

Mira mendekat dan ikut berdiri di dekat jendela.

“Langitnya bagus ya. Rasanya adem, anginnya enak.”

Zula mengangguk pelan.

Untuk beberapa saat mereka hanya berdiri tanpa bicara. Angin sore menggerakkan tirai jendela.

Mira kemudian melirik kertas di tangan Zula.

“Surat dari rumah?”

Zula menunduk sedikit.

“Iya. Dari ibu.”

“Pasti kangen ya?”

Zula tersenyum tipis.

“Kangen.”

Kata itu keluar begitu pelan, hampir seperti bisikan.

Mira tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menepuk pelan bahu Zula, lalu berjalan ke arah tempat tidur.

Di dalam kamar itu ada lima ranjang besi yang tersusun rapi. Dindingnya dicat warna krem. Di salah satu sudut, terdapat beberapa lemari sederhana yang berjejer rapi.

Lihat selengkapnya