Kamar Nomor Tiga

Idi Darusman
Chapter #3

3- Tarawih Pertama

Langit Jakarta malam itu tampak lebih gelap dari biasanya. Lampu-lampu di halaman Pesantren Darunnajah menyala kekuningan, memantulkan bayangan langkah para santri putri yang berjalan beriringan menuju masjid. Mukena putih mereka tampak seragam, seperti barisan burung yang hendak kembali ke sarangnya.

Zula berjalan di samping Nabila. Tangannya menggenggam tasbih kecil pemberian ibunya dua tahun lalu. Butiran kayu itu terasa hangat di sela jarinya, seolah menyimpan doa-doa lama yang belum sempat terucap.

“Deg-degan nggak, Zul?” bisik Nabila sambil tersenyum kecil.

Zula mengangguk pelan. “Entah kenapa, rasanya beda.”

Malam pertama tarawih selalu terasa istimewa. Tapi kali ini berbeda. Ini pertama kalinya Zula menjalani Ramadhan tanpa pulang. Tanpa suara ibunya yang membangunkannya untuk

sahur. Tanpa aroma kolak pisang yang selalu memenuhi dapur kecil rumah mereka.

Langkah mereka memasuki masjid. Suasana hening, hanya terdengar suara sandal yang disusun rapi dan bisik-bisik kecil yang segera menghilang ketika lampu utama diredupkan. Di bagian depan, imam sudah berdiri. Para santri merapatkan saf.

Zula berdiri di samping Nabila. Di sebelah kanannya, Nafisa tampak menunduk dalam-dalam. Wajahnya pucat, matanya sembap. Sejak sore tadi, Nafisa memang lebih banyak diam.

Takbir pertama menggema.

“Allahu Akbar.”

Suara itu memenuhi seluruh ruang masjid, menggetarkan dada Zula. Ia mengangkat kedua tangan, lalu melipatnya di dada. Bacaan Al-Fatihah dimulai. Suara imam berat dan tenang, mengalun seperti ombak yang menyentuh pantai perlahan.

Setiap ayat terasa panjang. Menenangkan. Sekaligus menusuk.

Zula mencoba khusyuk. Ia memejamkan mata sejenak. Namun bayangan rumah justru datang tanpa permisi. Ia teringat ruang tamu kecil mereka. Karpet hijau yang sudah mulai tipis. Ayahnya yang biasanya duduk di pojok, membaca Al-Qur’an sebelum berangkat tarawih ke masjid yang tidak jauh dari rumahnya.

Ia menelan ludah.

Dalam sujud pertama, dahinya menyentuh sajadah lembut. Di situlah, sesuatu di dadanya runtuh. Rasa rindu yang sejak siang ia tahan akhirnya mengalir pelan seperti air mata yang tak terlihat.

“Ya Allah,” bisiknya dalam hati, “jaga Ibu.”

Nama itu terucap lirih, hanya terdengar oleh dirinya sendiri dan Tuhan. Ia menyebut nama ibunya perlahan, seperti takut jika menyebutnya terlalu keras, rasa rindunya akan semakin membesar.

Di sampingnya, Zula mendengar suara tertahan. Nafisa terisak pelan. Suaranya begitu kecil, tapi cukup untuk membuat dada Zula terasa makin sesak.

Salat berlanjut. Rakaat demi rakaat terasa panjang. Bacaan imam malam itu tidak singkat. Ayat-ayat tentang kesabaran dan janji pertolongan Allah mengalir tenang, namun menghunjam ke dalam hati.

Ketika duduk di antara dua sujud, Zula sempat melirik sekilas ke arah Nafisa. Air mata gadis itu jatuh membasahi mukenanya.

Usai salam pertama, jamaah tetap duduk. Zula berani berbisik pelan.

“Fisa… kamu nggak apa-apa?”

Nafisa menggeleng pelan. “Aku kangen rumah, Zul.”

Kalimat itu sederhana. Tapi berat. Sangat berat.

Zula tersenyum tipis meski matanya sendiri mulai panas. “Aku juga.”

Nabila yang duduk di sisi kiri Zula ikut menimpali dengan suara hampir tak terdengar, “Kayaknya kita semua kangen.”

Mereka bertiga terdiam. Di tengah ratusan mukena putih yang seragam, ternyata hati mereka sedang memikul beban yang sama.

Salat dilanjutkan kembali. Kali ini Zula mencoba menyerahkan semuanya. Ia tak lagi menolak rasa rindu itu. Ia membiarkannya ada, tapi tak membiarkannya menguasai.

Dalam setiap sujud, ia belajar sesuatu yang baru, bahwa rindu bukan musuh. Ia hanya perlu diarahkan. Rindu bisa menjadi doa. Bisa menjadi tenaga untuk bertahan.

Lihat selengkapnya