Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan itu terdengar pelan, namun cukup untuk membelah sunyi dini hari. Zula mengerjapkan mata. Ruangan masih gelap, hanya cahaya redup dari lampu lorong yang masuk melalui celah bawah pintu.
“Bangun, anak-anak. Sahur,” terdengar suara ustadzah dari luar kamar.
Jam dinding kecil di atas lemari menunjukkan pukul tiga kurang sedikit. Nafas Zula terasa berat. Tubuhnya masih ingin terlelap. Ia baru saja merasa benar-benar tertidur ketika panggilan itu datang.
Di ranjang bawah, Nabila bergerak pelan. Nafisa mengerang kecil, menarik selimutnya lebih tinggi.
“Sudah jam tiga?” suara Nafisa terdengar serak. “Iya,” jawab Zula pelan sambil duduk dan mengusap wajahnya.
Udara dini hari di asrama terasa lebih dingin. Lantai keramik menyentuh telapak kaki
Zula dengan rasa menusuk. Ia meraih mukena tipis untuk menutupi bahunya, lalu turun perlahan dari ranjang atas.
Di luar kamar, suara pintu-pintu lain mulai terbuka. Langkah-langkah pelan terdengar di lorong. Beberapa santri masih menguap, beberapa berjalan sambil setengah memejamkan mata.
Zula menuju kamar mandi untuk berwudhu. Air yang menyentuh wajahnya terasa sangat dingin, membuatnya sedikit tersadar. Di cermin kecil yang menggantung miring, ia melihat bayangan wajahnya sendiri, masih mengantuk, tapi ada tekad tipis di matanya.
Sahur pertama di pesantren.
Di rumah, biasanya pada jam seperti ini, ibunya sudah lebih dulu bangun. Aroma bawang goreng dan santan sering menyelinap sampai ke kamarnya. Ibunya selalu memasak sesuatu yang hangat dan istimewa, seolah ingin memastikan anaknya kuat berpuasa seharian.
Kini, yang tercium hanyalah aroma nasi hangat dari dapur umum asrama.
Para santri berkumpul di ruang makan sederhana. Meja-meja panjang berjejer. Di atasnya sudah tertata piring berisi nasi putih, telur dadar yang dipotong-potong, dan segelas teh hangat yang uapnya masih mengepul.
Menu itu sangat sederhana.
Zula duduk di antara Nabila dan Nafisa. Ia memandang telur di piringnya beberapa detik lebih lama.
Entah mengapa, bayangan opor ayam buatan ibunya muncul begitu jelas. Kuah kuning kental dengan taburan bawang goreng, potongan kentang, dan aroma daun salam yang khas.
Dadanya terasa sesak lagi.
Nafisa menyentuh nasi dengan sendoknya pelan. “Kalau di rumah,” katanya lirih, “ibuku selalu bikin sambal teri pedas buat sahur.”
Zula menoleh. Nafisa tersenyum tipis, tapi matanya mulai berkaca-kaca.
“Sambalnya pedas banget,” lanjutnya, “tapi bikin nambah terus.”
Suasana meja itu mendadak sunyi. Beberapa santri di sekeliling mereka mulai makan dalam diam. Sendok beradu pelan dengan piring.
Zula menelan ludah. “Ibuku biasanya bikin opor,” ucapnya hampir berbisik. “Setiap Ramadhan pasti ada.”
Nafisa mengangguk cepat, seolah mengerti perasaan itu tanpa perlu banyak kata.
Tiba-tiba Mira, yang duduk di seberang mereka, menyela dengan nada sedikit lebih cerah, “Kalau aku, sahur di rumah cuma ditemani mi instan.”
Nafisa terdiam sejenak, lalu memandang Mira.
“Serius?” tanya Nabila.