Kamar Nomor Tiga

Idi Darusman
Chapter #5

5- Lima Menit yang Berharga

Siang itu, matahari Jakarta terasa lebih terik dari biasanya. Angin yang berembus di halaman pesantren pun tidak banyak membantu. Zula berdiri di bawah naungan pohon ketapang bersama belasan santri putri lainnya. Di depan mereka, sebuah ruangan kecil dengan jendela kaca terbuka menjadi tempat yang paling dinanti sekaligus paling menegangkan: ruang telepon pesantren.

Setiap santri hanya diberi waktu lima menit.

Lima menit yang terasa begitu singkat untuk menampung rindu yang menumpuk berhari-hari.

Zula menggenggam secarik kertas kecil berisi nomor rumahnya. Padahal ia hafal nomor itu di luar kepala. Namun entah mengapa, hari ini tangannya terasa sedikit gemetar.

Nabila berdiri di belakangnya. “Deg-degan?” bisiknya pelan.

Zula tersenyum tipis. “Iya.”

Beberapa santri di depan mereka keluar dari ruangan dengan mata merah. Ada yang tersenyum lega, ada yang langsung menunduk agar tak terlihat menangis. Setiap wajah membawa cerita masing-masing.

Nama Zula dipanggil.

“Nazula!”

Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia melangkah masuk ke ruangan kecil itu. Di dalamnya hanya ada sebuah meja, kursi kayu, dan telepon rumah berwarna hitam dengan kabel melingkar.

Ustadzah penjaga ruangan tersenyum lembut. “Lima menit ya, Nak.”

Zula mengangguk.

Tangannya meraih gagang telepon. Ia menarik napas panjang, lalu menekan nomor satu per satu. Bunyi nada sambung terdengar. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Klik.

“Halo?” suara itu terdengar.

Suara ibunya.

Hanya satu kata, tapi seketika dada Zula terasa penuh. Hangat. Sekaligus sesak.

“Assalamu’alaikum, Bu…” suaranya bergetar sangat tipis.

“Wa’alaikumussalam. Zula?” Suara di seberang sana langsung berubah lebih lembut. “Nak, bagaimana kabarmu?”

Zula menelan ludah. Ia ingin menjawab banyak hal. Tentang sahur sederhana. Tentang tarawih yang membuatnya menangis. Tentang telur dadar yang terasa hambar tanpa keluarga. Tentang langit Jakarta yang ia pandangi hampir setiap malam.

Namun waktu hanya lima menit.

“Zula baik, Bu,” jawabnya, berusaha terdengar ceria. “Di sini juga baik. Ramadhan pertama di pesantren rasanya… berbeda.”

Ibunya tertawa kecil di seberang sana. “Pasti kangen rumah, ya?”

Pertanyaan itu seperti mengetuk tepat di tengah hatinya.

Zula terdiam sepersekian detik, lalu tersenyum meski tak terlihat. “Sedikit, Bu.”

Padahal rindu itu tidak sedikit. Ia besar. Mengembang seperti balon yang hampir meledak. Namun ia tak ingin ibunya khawatir.

“Di rumah sepi tanpa kamu,” kata ibunya pelan. “Ibu tadi sahur cuma berdua sama Ayah. Rasanya ada yang kurang.”

Zula memejamkan mata. Ia bisa membayangkan meja makan kecil itu. Kursi yang biasa ia duduki. Piring yang biasanya ia pakai.

“Maaf ya, Bu… tahun ini Zula nggak pulang.”

“Tidak apa-apa, Nak,” jawab ibunya cepat. “Kalau itu membuatmu lebih kuat, Ibu ikhlas.”

Kata ikhlas itu kembali membuat tenggorokannya terasa sempit.

Di luar ruangan, suara langkah santri terdengar samar. Waktu terus berjalan.

“Belajar yang rajin,” lanjut ibunya. “Jaga kesehatan. Jangan lupa makan sahur yang cukup.”

“Iya, Bu.”

Zula ingin berkata bahwa telur dadar tadi terasa biasa saja. Bahwa ia hampir menangis karena teringat opor buatan ibunya. Namun ia hanya menggigit bibir dan menahan semuanya.

“Tadi Ibu masak apa?” tanyanya akhirnya.

“Opor ayam,” jawab ibunya ringan.

Lihat selengkapnya