Pagi itu, udara selepas Subuh terasa lebih sejuk dari biasanya. Langit Jakarta masih pucat kebiruan ketika para santri putri duduk rapi di serambi masjid. Mukena putih sudah dilipat, diganti dengan jilbab sederhana dan gamis yang seragam. Barisan mereka memanjang, membentuk setengah lingkaran menghadap ke arah mimbar kecil di depan.
Zula duduk di antara Nabila dan Nafisa. Tangannya terlipat di pangkuan. Wajahnya terlihat tenang, tetapi hatinya masih menyimpan gema percakapan lima menit kemarin. Suara ibunya seakan belum benar-benar hilang dari telinganya.
Di depan, ustadzah duduk dengan kitab kecil di tangannya. Wajahnya teduh. Suaranya selalu lembut, namun mampu menjangkau sudut hati yang paling tersembunyi. “Anak-anak,” beliau memulai, “Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga.”
Suasana serambi hening. Hanya terdengar suara burung yang sesekali melintas dan angin yang menggeser dedaunan.
“Ramadhan juga tentang menahan perasaan yang berlebihan. Termasuk rindu.”
Kata itu membuat jantung Zula berdetak sedikit lebih cepat.
Beberapa santri menunduk. Beberapa lainnya tetap menatap ke depan. Nafisa di sampingnya tampak menggigit bibir.
Ustadzah melanjutkan, “Rindu kepada orang tua adalah bagian dari bakti. Itu tanda hati kalian masih lembut. Itu tanda kalian mencintai rumah.”
Kalimat itu terasa seperti pelukan hangat.
Zula menelan ludah. Ia merasa seperti sedang dibaca. Seolah ustadzah tahu tentang tangisnya di balik bantal. Tentang lima menit yang begitu berharga kemarin siang.
“Tapi,” suara ustadzah sedikit ditegaskan, “jangan sampai rindu membuat ibadah kalian melemah.”
Kata-kata itu jatuh tepat di tengah dadanya.
Zula menunduk. Ia teringat malam tarawih pertama, ketika sujudnya lebih banyak diisi tangis daripada doa. Ia teringat sahur sederhana yang hampir membuatnya kehilangan selera makan karena membandingkannya dengan masakan rumah. Ia teringat telepon kemarin, ketika ia berusaha terdengar kuat, padahal ingin menangis lebih lama.
Apakah rindu itu melemahkannya?
Di sampingnya, Nafisa mengusap mata pelan. Mungkin ia pun merasakan hal yang sama.
“Kalau kalian rindu,” lanjut ustadzah, “jadikan rindu itu doa. Jadikan ia kekuatan untuk belajar lebih sungguh-sungguh, agar orang tua bangga.”
Angin pagi berembus pelan, menyentuh wajah Zula. Ia menarik napas dalam-dalam.
Doa.
Selama ini, ia lebih sibuk menahan rindu atau menyesalinya. Mungkin ia belum benar-benar mengubahnya menjadi doa yang kuat.
Salah satu santri di barisan depan mengangkat tangan. “Ustadzah, bagaimana kalau rasa rindu itu datang tiba-tiba saat sedang belajar?”
Ustadzah tersenyum. “Maka berhentilah sejenak. Tarik napas. Ucapkan doa untuk orang tua. Setelah itu, lanjutkan kembali. Jangan biarkan rindu mencuri waktu yang seharusnya menjadi amal.”
Beberapa santri mengangguk pelan.
Zula merasa kalimat itu sederhana, tetapi menenangkan. Ia tidak perlu mengusir rindu itu. Ia hanya perlu mengarahkannya.
Nabila menoleh sedikit dan berbisik sangat pelan, “Kayaknya ini buat kita.”
Zula tersenyum tipis tanpa mengangkat wajah. “Iya.”
Ustadzah menutup kitabnya perlahan. “Anak-anak, orang tua kalian merelakan kalian di sini bukan untuk melihat kalian lemah. Mereka ingin kalian tumbuh. Maka kuatlah. Karena kuat kalian adalah hadiah untuk mereka.”