Kamar Nomor Tiga

Idi Darusman
Chapter #7

7- Air Mata Nafisa

Malam itu, suasana Kamar Nomor Tiga lebih sunyi dari biasanya. Lampu utama sudah dimatikan sejak satu jam lalu, menyisakan cahaya temaram dari lampu kecil di sudut ruangan. Angin dari jendela yang sedikit terbuka membuat tirai tipis bergerak pelan, menimbulkan bayangan lembut di dinding.

Zula terbangun tanpa tahu sebabnya. Mungkin karena suara angin. Mungkin karena hatinya yang belum benar-benar lelap.

Ia membuka mata perlahan. Langit-langit kamar tampak samar. Nafas teman-temannya terdengar teratur. Namun di sela keheningan itu, ada suara lain—sangat pelan, hampir tak terdengar.

Isak.

Zula menahan napas, mencoba memastikan. Suara itu datang dari ranjang bawah, tempat Nafisa tidur.

Ia bangkit perlahan, duduk di tepi ranjang atas. Dari celah cahaya, ia melihat selimut Nafisa bergerak pelan. Bahunya naik turun seperti seseorang yang berusaha menahan tangis.

Zula turun tanpa suara. Kakinya menyentuh lantai dingin. Ia mendekat dan duduk di sisi ranjang Nafisa.

“Fisa…” bisiknya lembut.

Selimut itu sedikit tersibak. Wajah Nafisa terlihat basah oleh air mata. Matanya sembab, napasnya terputus-putus.

“Kamu kenapa?” tanya Zula pelan.

Nafisa mencoba menggeleng, tapi tangisnya justru semakin terdengar.

Zula menatapnya khawatir. “Fisa, cerita sama aku.”

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Nafisa berbisik lirih, suaranya hampir hilang, “Ibu… sakit.”

Jantung Zula seperti berhenti sejenak.

“Sakit?” ulangnya pelan.

Nafisa mengangguk. “Tadi sore Bapak kirim pesan lewat ustadzah. Ibu demam tinggi sejak kemarin. Kata Bapak, mungkin cuma kecapekan… tapi aku takut, Zul.”

Kalimat terakhir itu pecah bersama tangis yang tak lagi bisa ditahan.

Zula merasakan sesuatu meremas dadanya. Rindu yang ia rasakan selama ini tiba-tiba terasa kecil dibandingkan ketakutan Nafisa malam ini.

“Kamu sudah telepon?” tanya Zula lembut.

“Belum bisa… jadwal telepon baru besok,” jawab Nafisa sambil terisak.

Tangannya mencengkeram ujung selimut, seperti mencari pegangan.

Saat itulah Nabila bergerak dari ranjangnya. Sepertinya ia juga terbangun oleh suara tangis tadi. Ia turun perlahan dan mendekat tanpa banyak bicara.

“Ada apa?” tanyanya pelan.

“Ibunya Fisa sakit,” jawab Zula.

Nabila langsung duduk di sisi lain Nafisa dan menggenggam tangannya dengan tenang. Genggaman itu mantap, hangat, seperti jangkar di tengah badai.

“Kita doakan sama-sama,” ucap Nabila lembut.

Mira yang biasanya paling sulit bangun kini ikut duduk di ranjangnya. Rambutnya sedikit berantakan, matanya masih setengah mengantuk. Namun ketika ia melihat Nafisa menangis, wajah cerianya langsung berubah serius.

“Ibumu sakit?” tanyanya pelan.

Nafisa hanya mengangguk.

Lihat selengkapnya