Pagi itu datang dengan cahaya yang lembut. Nafisa bangun lebih dulu, lalu tersenyum kecil ketika melihat Zula masih terlelap dengan wajah yang lebih tenang dari malam sebelumnya. Udara di Kamar Nomor Tiga terasa berbeda. Seperti ada sisa kekuatan dari doa-doa yang mereka panjatkan bersama.
Hari berjalan seperti biasa. Mereka berangkat kuliah, duduk di kelas, mencatat materi, dan sesekali saling melempar pandang untuk memastikan satu sama lain baik-baik saja. Nafisa memang belum sepenuhnya ceria, tetapi matanya tidak lagi kosong. Ada harapan kecil yang mulai tumbuh.
Menjelang siang, ketika mereka kembali ke kos, penjaga rumah memanggil dari bawah.
“Zula! Ada paket!”
Zula menoleh, sedikit heran. Ia jarang menerima kiriman. Dengan langkah cepat ia turun. Sebuah kotak kecil berbalut kertas cokelat
disodorkan kepadanya. Di sudutnya tertulis alamat kampung halaman yang sangat ia kenal.
Tangannya mendadak gemetar.
Ia membawa kotak itu naik ke kamar. Nabila yang sedang melipat pakaian langsung mendekat. Mira menghentikan aktivitasnya menyisir rambut. Nafisa ikut berdiri.
“Dari rumah?” tanya Mira pelan.
Zula hanya mengangguk.
Ia duduk di lantai, membuka tali rafia dengan hati-hati. Aroma kue kering langsung menyeruak begitu kotak itu terbuka. Bau sederhana yang begitu akrab—seperti pelukan dari jauh.
Di dalamnya ada beberapa toples kecil berisi kue nastar dan kue kacang. Di atasnya terselip sepucuk surat, dilipat rapi.
Zula menatap tulisan tangan itu lama sekali. Ia mengenali setiap lengkung hurufnya. Tulisan yang dulu membimbingnya mengeja, kini kembali hadir membimbing hatinya.
Tangannya sedikit bergetar saat membuka surat itu.
Anak Ibu,
Jaga shalatmu. Jaga akhlakmu. Jangan pernah tinggalkan doa, karena di situlah Ibu menitipkan namamu setiap hari. Ibu tidak bisa mengirimmu banyak, hanya kue sederhana ini. Semoga cukup mengobati rindu. Jangan lelah menjadi anak yang baik. Allah tidak pernah tidur.
Tulisan itu sederhana. Tidak panjang. Tapi setiap katanya seperti mengetuk dadanya pelan-pelan.
Zula membacanya sekali. Lalu dua kali. Lalu berkali-kali.
Matanya mulai basah.
Namun kali ini air mata itu berbeda. Bukan air mata rapuh seperti malam-malam sebelumnya. Ada rasa hangat yang mengalir bersama tangisnya. Ia merasa seperti sedang dipeluk dari jarak yang sangat jauh.
“Ibumu selalu ingat kamu,” bisik Nabila lembut.
Zula mengangguk pelan. “Beliau nggak pernah lupa mengingatkanku soal shalat.”
Mira tersenyum kecil. “Itu tanda cinta paling serius.”
Nafisa memandang surat itu dengan mata yang juga berkaca-kaca. “Doa ibu itu seperti pagar,” katanya lirih. “Kita mungkin jauh, tapi tetap dijaga.”
Zula menarik napas panjang. Ia tidak merasa lemah. Justru sebaliknya. Seakan surat itu menyiram bagian hatinya yang sempat kering oleh rindu dan lelah.
Ia mengusap matanya lalu tersenyum tipis.
“Ayo, kita makan kuenya,” katanya pelan.