"Aku gak bales, nanti bakalan panjang dan berabe kalau aku bales. Lagian kan om, aku tuh beneran gak bisa. Kayak buang waktu, mana capek banget sumpah!"
Gadis berkaus putih dengan celana pendek gombrong berwarna biru itu sudah mengeluarkan keluh kesahnya sejak 20 menit yang lalu. Jemarinya masih terus menari di atas keyboard menulis syntax Javascript untuk menyelesaikan projeknya. Sementara manusia di seberang sana hanya mengangguk-angguk kecil meski kegiatannya itu tidak terlihat oleh lawan bicara.
Ridwan, pria 29 tahun itu menyimak curhatan keponakannya sembari menyesap latte sesekali. Seperti biasa, meski sedang menonton variety show kesukaannya, ia segera mematikan TV setelah mendapati nama Ayka di layar handphone-nya. Akhir-akhir ini gadis itu semakin sering menelpon dan membahas mengenai ibunya. Padahal untuk masalah ini, beberapa hari yang lalu Ridwan sempat menelpon ibu untuk membahas mengenai Ayka dan alasan ia tidak tidur di rumahnya. Namun sepertinya itu tidak membantu.
"Tugas aku tuh gak kelar-kelar capeekk, aku belum tidur dari hari senin. Masa temenku bilang lama-lama aku bisa pendarahan di otak gara-gara gak tidur, emang bener? Ya tapi mau gimana lagi lah, deadlinenya bentar lagi rasanya mau meninggoy aja."
Terdengar helaan napas cukup panjang dari telepon, itu tanda omelan Ridwan. Ya, omelannya hanya melalui helaan napas. Bahkan helaan napas yang keluar dari pria lajang itu lebih fungsional. Jika suatu permasalahan terlalu berat ia menghela napas, jika ada sesuatu yang ingin ia utarakan tapi banyak pertimbangan di otaknya ia menghela napas, jika tersudut ia menghela napas, di roasting kakak-kakaknya pun ia hanya menghela napas. Tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Sepertinya Ayka bisa menghitung berapa jumlah kata yang pamannya lontarkan dalam sebulan jika ia berniat menghitungnya. Ajaibnya, kalimat yang ia keluarkan selalu tepat sasaran dan terdengar halus, cenderung tidak ada kalimat yang buruk. Orang akan lebih sering tersinggung dengan diamnya dari pada ucapannya.
"Oh, oh, om! aku punya gosip btw. Masih inget gak cewek genit yang dulu suka gabut manggil-manggil om ke rumah? Married dia gilaaa! katanya sama tentara yang akhir-akhir ini suka dateng ke balai desa. Tapi setahuku kalau denger-denger orang ngomong sih, dianya yang mepet dan maksa dinikahin masa?! hahahaha, gak habis pikir sama teteh-teteh satu itu gusti."
Ridwan menghela napas...
"Terus kan om, bi Indri bilang padahal teh Mala pilihan terakhir yang bisa dia nikahin sama om. Hilang deh pilihan terakhirnya hahahaha, om seneng apa kecewa denger kabar ini? tapi gak mungkin gak sih kalau om ternyata diem-diem suka si teh Mala? kan selera om kayak Han so hee kan om? teh Mala cantik sih, cuma dia terlalu agresif, bisa-bisa om stress kalau nikah sama dia, ya nggak om? om? OM?!"
"Hmm?"