Sejak pagi, rasanya kepalaku penuh. Bukan karena tugas atau projek yang biasanya memenuhi isi kepala. Kali ini lebih banyak oleh satu kalimat yang dikirim oma semalam.
Kayaknya gak ada yang bisa buka pintu kalo oma mati di dalam sendirian.
Entah kenapa kalimat itu terus berputar-putar di kepalaku. Bahkan ketika dosen sedang menjelaskan sesuatu di depan kelas, pikiranku malah kembali ke sana. Kalau oma benar-benar sakit dan tidak ada siapa-siapa di rumah, bagaimana? Kalau terjadi sesuatu dan tidak ada yang tahu? Kalau—
“Ayka.”
Aku tersentak.
“Hah?”
Cica yang duduk di sebelahku menatap heran, “Dari tadi dipanggil gak nyaut.”
“Oh.”
“Kamu kenapa?”
Aku menggeleng, “Gapapa.”
Sisil yang duduk di depan kami ikut memutar badan.
“Bohong.”
“Apaan sih?”
“Muka kamu kayak orang habis kehilangan duit.”
“Lebih parah,” sahut Cica. “Kayak orang habis diputusin.”
Aku memutar mata.
“Gak punya pacar, gimana mau diputusin?”
“Dih, makanya jangan lu tolak-tolakin. Terima aja noh Faldi, atau Aditya mungkin?”
“Ogah.”
Sisil tertawa kecil.
Aku kembali menyandarkan punggung ke kursi. Sebenarnya aku memang sedang tidak ingin membicarakannya. Tapi sejak pesan oma semalam, pikiranku tidak bisa berhenti memikirkan hal yang sama.
“Semalam oma ngechat aku.”
“Kenapa?” tanya Cica.
Aku menghela napas.
“Awalnya biasa aja. Nanya aku masih sibuk atau enggak, terus nanya aku nginep apa enggak. Terus bilang mau kunci rumah.”
“Terus?”
Aku menatap meja, “Terus oma bilang, kayaknya gak ada yang bisa buka pintu kalau oma mati di dalam sendirian.”
Cica dan Sisil langsung diam.
“Nah, kan,” kataku. “Gimana aku gak kepikiran?”
“Ya ampun…”
“Aku tuh bingung, Ci. Kenapa harus ngomong kayak gitu?”
“Karena mungkin oma kamu kesepian?”
“Nah itu dia.”
Aku mengangkat kepala.
“Kenapa harus aku yang disalahin kalau oma kesepian?”
Sisil menatapku, “Emang ada yang nyalahin?”
“Belum.”
“Belum?” ucap gadis berambut blonde itu.
Aku mengangguk.