Kamar Tidur

N'zyna
Chapter #5

Terserah Ayka

Aku membuka mata ketika sinar matahari perlahan menyentuh wajahku. Hangat. Cahaya yang masuk dari sela-sela tirai itu jatuh tepat di bagian wajah dan lenganku. Aku mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba menyesuaikan pandangan dengan cahaya pagi yang memenuhi kamar.

Untuk beberapa detik, aku hanya diam. Tidak ada suara alarm. Tidak ada notifikasi tugas. Tidak ada pikiran tentang projek yang belum selesai. Tidak ada deadline. Tidak ada laptop yang harus segera kubuka. Tidak ada apapun. Aku menghela nafas panjang. Kemudian kembali membenamkan wajah ke bantal.

Ya Tuhan. Nyaman banget. Sudah berapa lama aku tidak bangun dengan perasaan seperti ini? Rasanya tubuhku benar-benar ringan. Tidak ada rasa pegal yang berlebihan, kepala tidak pening, dan yang paling penting, aku tidak bangun dengan pikiran tentang apa yang harus aku kerjakan setelah ini. Semester yang se-dar-der-dor itu akhirnya selesai.

Setelah beberapa minggu hidup seperti kelelawar, sekarang aku bahkan bisa tidur tanpa harus merasa bersalah karena ada pekerjaan yang belum selesai. Aku tersenyum sendiri. Mungkin ini yang namanya hidup. Tanganku meraba-raba sisi kasur sebelum akhirnya menarik selimut sedikit lebih tinggi.

Aku sebenarnya masih ingin tidur lagi, tapi entah kenapa, pagi ini terasa terlalu menyenangkan untuk dilewatkan. Aku membuka mata lagi dan perlahan bangkit dari posisi tidur. Begitu duduk, pandanganku langsung bertemu dengan pantulan diri sendiri di cermin yang aku pasang beberapa jengkal di atas kasur.

Rambut berantakan. Wajah kusut, tapi tetap cantik sekali. Aku tertawa kecil melihat penampilanku sendiri. Namun beberapa detik kemudian, pandanganku justru beralih ke sekeliling kamar. Aku tersenyum.

Kamar ini. Kamar yang selama bertahun-tahun cuma ada di kepalaku. Aku pernah membayangkan bagaimana rasanya punya tempat tidur yang nyaman, meja belajar yang cukup luas untuk laptop dan buku-buku, dekorasi sederhana yang membuat kamar ini menjadi lebih manis dan menarik, juga jendela dengan pemandangan pegunungan. 

Ruangan di lantai 2 rumah ibu yang dulu hanya berupa ruangan kosong, sekarang benar-benar menjadi kamarku. Aku bahkan yang mengatur hampir semuanya. Posisi tempat tidur, meja belajar, rak buku, lemari, sampai letak cermin. Aku ingin semuanya berada di tempat yang menurutku pas. Tidak terlalu ramai. Tidak terlalu kosong. Dan tentu saja, warna pink di mana-mana. Sprei pink. Bantal pink. Beberapa hiasan kecil di meja berwarna pink. Bahkan tempat pensil pun pink. Aku suka. Sangat suka.

Aku kembali melihat ke arah jendela. Cahaya matahari masuk dengan lembut, membuat kamar ini terasa semakin hangat. Tirai yang sengaja kupilih dengan warna terang bergerak sedikit ketika terkena hembusan angin dari celah jendela.

Pencahayaannya juga pas. Tidak terlalu terang. Tidak terlalu gelap. Benar-benar seperti yang kuinginkan. Aku mengambil ponsel yang berada di samping tempat tidur. Tidak ada pesan penting. Tidak ada tugas yang harus segera aku kerjakan. Aku bahkan tidak tahu harus melakukan apa hari ini.

Dan ternyata…

Aku suka perasaan itu.

Aku baru saja hendak kembali berbaring ketika pintu kamar diketuk.

Tok.

Tok.

“Ayka?”

Suara ibu terdengar dari balik pintu.

“Iya?”

Pintu terbuka dan ibu muncul dengan pakaian rapi, sepertinya hari ini ibu mau pergi.

“Udah bangun?”

“Udah.”

“Tumben bangun siang?”

Aku mengerucutkan bibir, “Kan sekarang udah gak punya tugas.”

Ibu tertawa kecil, “Makanya. Ibu sampai bingung lihat kamu tidur semalem. Biasanya jam segini udah keluyuran ke dapur, bikin kopi, terus balik lagi ke kamar.”

Aku tertawa. Ibu kemudian masuk beberapa langkah, “Oh iya, kamu ikut piknik gak?”

Aku langsung menoleh, “Piknik?”

“Iya. Oma, tante-tante kamu, sepupu-sepupu kamu juga katanya ikut.”

Aku langsung mengangguk, “Mau!” Jawabanku bahkan terlalu cepat sampai ibu tertawa.

“Belum tahu pergi kemana udah bilang mau.”

“Pokoknya ikut.”

“Kenapa?”

“Karena aku udah free,” aku mengangkat kedua tangan seperti orang yang baru saja terbebas dari penjara. “Gak ada tugas, gak ada projek, gak ada deadline. Aku mau liburan,” sambungku.

“Liburan sehari doang.”

“Gak masalah.”

Ibu menggeleng sambil tersenyum, “Ya udah, siap-siap. Jangan lama.”

“Siap nyonya!”

Ibu berbalik hendak keluar kamar.

“Oh iya, Bu.”

“Hm?”

Aku melihat sekeliling kamar sekali lagi, “Bagus gak kamar Ayka?”

Ibu menatapku sebentar, lalu ikut melihat ke seluruh ruangan, “Bagus.”

Aku tersenyum puas, “Kan?”

“Iya. Dari dulu kamu memang paling ribet kalau urusan kamar.”

“Bukan ribet. Aku punya konsep.”

“Konsep apaan?”

“Konsep kamar impian.”

Ibu tertawa.

“Ya udah, sana mandi dulu, princess pinky!”

Aku tertawa kecil ketika ibu akhirnya keluar dan menutup pintu kamar. Aku kembali menatap sekeliling.

Kamar impian.

Aku tersenyum.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku benar-benar merasa seperti punya tempat yang bisa kusebut rumah.

****

Rupanya piknik yang dimaksud ibu adalah camping di glamping. Beberapa tenda berdiri di antara pepohonan, lengkap dengan lampu-lampu kecil yang digantung di sepanjang tali. Ada beberapa meja kayu yang sudah dipenuhi makanan, kursi lipat berserakan, dan tentu saja aroma daging panggang yang membuat perutku tiba-tiba keroncongan.

Aku sendiri sedang duduk di salah satu tenda bersama tiga sepupuku. Kayla duduk paling dekat denganku. Usianya sama denganku, hanya berbeda beberapa bulan. Di sebelahnya ada kak Rosa, cucu pertama oma yang usianya dua tahun lebih tua dariku. Sementara di ujung bangku ada Naya, sepupu kami yang masih berusia 16 tahun.

“Pokoknya aku gak mau balikan lagi,” kata Kayla sambil memasukkan keripik ke dalam mulut.

“Kenapa?” tanya Naya.

“Dia selingkuh.”

Aku langsung menoleh, “Hah?”

“Ketahuan sama siapa?” tanya kak Rosa.

“Temennya sendiri.”

Lihat selengkapnya