Aku ternyata memang tidak pandai menepati janji. Bukan karena aku sengaja. Waktu itu aku benar-benar hanya meminta beberapa hari kepada oma. Beberapa hari untuk menikmati kamar yang baru selesai direnovasi, tidur tanpa harus memikirkan tugas, dan sekadar merasakan bagaimana rasanya bangun di satu rumah yang sama tanpa harus buru-buru pergi ke rumah oma.
Namun rupanya beberapa hari ternyata berubah menjadi lebih lama. Pesan dari oma pun mulai kembali berdatangan lagi seperti sebelumnya. Aku membaca semuanya. Kadang kubalas. Kadang hanya kubaca lalu kututup. Bukan karena aku tidak ingin menjawab. Aku hanya tidak tahu harus menjawab apa. Karena dua hari setelah kami pulang dari tempat glamping waktu itu, sebuah email masuk ke ponselku.
Aku diterima magang. Tempat yang beberapa waktu lalu ku lamar akhirnya mengirimkan kabar bahwa aku diterima. Masalahnya, perusahaan itu berada di luar kota. Karena program magangnya cukup padat, aku harus tinggal di asrama yang sudah disediakan perusahaan.
Jadi, bahkan sebelum aku sempat benar-benar memutuskan kapan harus kembali ke rumah oma, aku sudah harus pergi lagi.
Sebenarnya aku sempat berpikir untuk menolak. Namun setelah apa yang aku lakukan selama ini, sekeras apa usahaku untuk bisa diterima di perusahaan itu, rasanya bodoh kalau aku melewatkan kesempatan ini. Lagipula, ini salah satu pengalaman yang memang ingin kudapatkan sebelum lulus. Jadi, aku pergi.
Tentu saja oma tidak senang. Sama sekali tidak. Aku masih ingat bagaimana nada suara oma ketika mengetahui aku akan tinggal di luar kota. Marah. Sangat marah. Sampai akhirnya aku memilih tidak banyak membantah. Bukan karena aku setuju, tapi karena aku tahu kalau aku terus membalas, percakapan kami tidak akan selesai.
“Sekarang aman kan sinyalnya?” tanya seseorang di balik layar.
Saat ini aku sedang duduk di depan laptop sambil melakukan panggilan video dengan satu-satunya orang yang biasanya bisa membuatku membicarakan hal-hal seperti ini tanpa merasa sedang dihakimi.
Om Ridwan. Wajahnya muncul di layar. Dengan latar belakang apartemennya di Inggris yang entah kenapa selalu terlihat terlalu rapi.
“Jadi oma marah lagi?” tanyanya.
Aku mengangguk, “Banget.”
“Kamu udah jelasin?”
“Udah.”
“Terus?”
“Ya tetap marah.”
Om Ridwan menghela napas.
“Dari awal oma emang gak suka aku kemana-mana,” sambungku.
Om Ridwan terdiam. Sementara aku memainkan rambutku yang tergerai di bahu, “Lagipula aku kan magang.”
“Iya, om ngerti.”
“Om tahu kan aku dari awal memang mau magang?”
“Tahu.”
“Makanya aku gak mau batal cuma gara-gara oma,” ucapku, lalu menghela napas, “Om…”
“Hm?”
“Aku salah gak? aku egois gak sih?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku.